Kolom Ahmad Fauzi: Manifesto Puisi — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Ahmad Fauzi: Manifesto Puisi

Kolom Ahmad Fauzi: Manifesto Puisi

Yang remang-remang sedang bergentayangan, menebar aura malam dan kegelapan. Siap menggulung cahaya terang yang menjemukan dan membosankan. Langit biru nan cerah kurang gelap, kurang bernafsu, tidak berdarah dan tak menggairahkan. Kesurupan dengan degup jantungnya yang kembang kempis layaknya kuda-kuda yang saling berkejaran susul-menyusul, segera mengambil alih kesadaran yang pecah, retak, penakut, tidak berani berpetualang, menjelajah ceruk-ceruk alam semesta terjauh dan menantang. Kegilaan sedang menjadi semangat zaman, perlu dirayakan dan disambut dengan riang.

Dengan ini, kami persembahkan pada teman-teman, ideologi puisi kesurupan yang digali dari hasrat dan insting kegilaan. Ideologi puisi yang meledakkan emosi dan kemarahan, membongkar sumbatan-sumbatan beban pikiran, sehingga terasa bebas seperti terbang melayang.

Ideologi puisi yang menyuarakan hasrat tertekan dan gairah terlarang. Juga melepaskan roh singa yang selama ini dikurung dan dikekang oleh jeruji besi moralitas dan agama, agar ia mengaum merobek-robek topeng kemunafikan sehingga dengan begitu kita menjadi manusia yang terbebaskan.

Puisi kesurupan memandang kesadaran sebagai dunia yang tak berani menampilkan diri yang sebenarnya. Berkedok, bertopeng dan bersembunyi dari keaslian dan keotentikan. Ia hanya lapisan tipis yang menyamarkan dan memanipulasi kenyataan. Di balik kesadaran yang sering berwarna cerah dan terang, tersembunyi watak gelap dan remang-remang, nafsu dan gairah yang tertekan, inilah kawasan ketidaksadaran atau alam bawah sadar. Falsafah kesadaran terlalu takut dengan naluri dan insting, malah berusaha menyangkalnya sebagai liyan yang menyeramkan.

Perlu diketahui, kesadaran tidak akan hidup tanpa tenaga yang diperoleh dari insting dan naluri alam bawah sadar. Namun, pertumbuhan kesadaran justeru berkembang dengan menegasikan naluri ketidaksadaran. Falsafah Descartes yang memenangkan kesadaran sebagai ciri khas manusia dalam mengada, akhirnya digoyang oleh Tiga Guru Pencuriga (Marx, Nietzsche dan Freud), di mana dua yang terakhir menganggap kesadaran sebagai pinggiran, bukan tuan rumah ataupun pengendali dan bukan lagi pusat dalam diri manusia.

Adalah menyesatkan ketika ada suara yang merayakan kemenangan nalar dan kesadaran atas naluri dan insting alam bawah sadar. Justeru kesadaran selalu digerogoti dan tersedot oleh hisapan lubang hitam alam bawah sadar. Maka jadilah kesadaran sebagai sesuatu yang retak, pecah dan tidak pernah mencapai status otonom dan independen. Bagaimana sesuatu yang lahir dari inangnya kemudian ingin hidup lepas dengan menafikan asal-usulnya sendiri? Kalau kesadaran berusaha lepas dari asal-usulnya, tentu ia akan membunuh kehidupannya sendiri, atau menjadi subyek yang terasing dan tak bersarang.

Puisi kesurupan menempatkan Nietzsche sebagai Guru Agung yang telah meletakkan pondasi dan fundamen, bahwa kesadaran, harmoni, keteraturan dan cahaya terang yang disimbolkan dengan Apollo kini tidak lagi menarik dan menghambat insting, hasrat dan kehendak manusia. Ide-ide moral yang bersifat terang dan bercahaya tapi kaku selalu menuntut manusia untuk bernafas di luar habitat kenyataan, menekan hasrat dan gairah hidupnya yang gelap dan remang-remang.

Kita pun menjadi tahanan moral, pesakitan dan tidak siap tumbuh dewasa. Jalan hidup yang menolak dan mengabaikan kenyataan membuat manusia kerdil dan tak berwawasan. Perkembangan rohaniah dan kepribadian kita pun terhambat, karena kehendak dan elan vital ditekan, dikekang dan disudutkan ke dalam lumbung alam bawah sadar, kanal dan gudang bagi segala yang tersingkirkan. Oleh karena itu, sebagai lawan Apollonian, semangat Dionysosian berusaha mengekspresikan kembali apa-apa yang dulu direpresi oleh ide moral, nalar, kesadaran dan keteraturan.

Dionysos melambangkan kegelapan, gairah, hasrat, insting, amarah, daya hidup, kesurupan dan kegilaan yang selama ini membisul dalam relung-relung gelap alam bawah sadar untuk bisa diangkat kembali ke permukaan layaknya gunung yang memuntahkan lava dan pijar api yang membuatnya berat dan terbebani. Dengan melepaskan beban tersebut manusia menjadi bebas, ringan dan terekspresikan, kepribadian kita pun siap mekar dan mengembang. Manusia menemukan dirinya kembali setelah lama menghilang.

Nietzsche adalah filsuf pertama yang menggali dunia alam bawah sadar sebagai gudang endapan yang tertekan dan terkekang. Kemudian Freud mengonseptualisasikannya dan berhasil memformulasikan wilayah yang pernah dijelajahi dengan berani oleh Nietzsche dalam sebuah sistem terpadu yang kini banyak diketahui orang, yaitu Psikoanalisa. Alam bawah sadar merupakan residu yang menyuarakan sesuatu yang purba, primitif dan asli. Kedirian manusia yang terdalam ada pada dunia alam bawah sadar. Menyelami alam bawah sadar yang gelap dan remang-remang akan membantu kita mengenal diri sendiri dan menyadari potensi-potensi alamiah kita yang terpendam sehingga bisa teraktualisasikan dalam kenyataan dunia.

Membuka gembok pagar lumbung alam bawah sadar akan mengantar kita untuk menemukan kecakapan-kecakapan orisinil dan wawasan kreatif yang dengan itu membawa kita berusaha menuju pada puncak perkembangan rohaniah dan kepribadian. Manusia yang mampu melihat tidak hanya cahaya terang tapi juga kenyataan pahit, kegelapan dan kegilaan dalam dirinya tentu menjadikan ia lebih meresapi dan memahami kemanusiaan seutuhnya. Manusia mengada tidak hanya dengan cahaya kosmos, kesadaran dan keteraturan tapi juga ditentukan oleh sesuatu yang mengandung chaos, ketidakpastian dan kegelapan.

Manusia sering menjadi tahanan moral, karena ia dikungkung dan dituntut oleh ideal-ideal yang membebani dan memenjarakan instingnya, sehingga hidup terasa kaku, kering dan membosankan. Daya cipta dan kreatifitas dimandulkan oleh ide-ide moral yang tidak ramah dengan kenyataan dan peradaban. Ide-ide moral bersembunyi di balik cahaya terang, yang dengan mudahnya di hadapan persepsi kita, memanipulasi dan mengaburkan realitas dari kehidupannya yang asli.