Kolom Ahmad Fauzi: Mbah Naik
Agama membuatnya kuat untuk menghadapi hidupnya yang sangat miskin tanpa saudara d an anak istri.
Hidup Ghazali memang tidak pernah berubah setiap harinya. Mengeruk pasir dan memecah bebatuan di pinggir kali yang keruh dan dangkal mulai Pukul 07.00 Pagi hingga 16.00 Sore. Panas menyengat membakar kulitnya yang sudah mengerak dan hitam. Belum lagi jalan kecil licin ketika menyusur ke bawah sungai. Tubuhnya disiksa oleh beratnya kerja. Setelah seminggu atau lebih ia baru bisa menjual hasil keringatnya dengan dihargai bisa sampai Rp. 300 ribu kalau lagi beruntung. Sumber foto: Tempo.co [/caption]