Beranda / Kolom Andi Safiah: Keadilan Kolom Andi Safiah: Keadilan Berita terkini Kolom · 18 Juni 2018 Realitas yang dipahami oleh Aristoteles dan realitas yang dipahami oleh Newton jelas sangat berbeda. Aristoteles memahami bahwa, pada dasarnya, tubuh kita lebih cenderung "diam" sampai pada titik di mana kita dipaksa bergerak oleh tekanan. Apapun jenis tekanan yang numpang lewat. Pada sisi lain, Aristoteles juga berpandangan bahwa benda yang wujudnya dan massanya lebih besar jika dilepas dari ketinggian tertentu, maka laju kecepatannya lebih dari benda yang massa dan bentuknya l ebih kecil. Terakhir, Aristoteles juga berpandangan bahwa alam semesta dikendalikan oleh pikiran, sehingga metode eksperimen menjadi tidak begitu penting dalam pandangan Aristoteles. Pandangan Aristoleles terhadap realitas bertahan hingga ribuan tahun lamanya, bahkan otoritas gereja pada masa itu menjadikan pandangan Aristoteles sebagai kebenaran tunggal yang tidak bisa dibantah. Namun, sejak Copernicus, Keppler, Galileo, dan Newton nongol by accident, maka pandangan Aristoteles yang usianya begitu panjang perlahan diragukan oleh manusia-manusia independent macam Newton. Bagi Newton, semua benda yang ada di alam semesta ini tidak ada yang diam. Hampir semua bergerak relatif antara satu dengan yang lainnya. Diam bukanlah pilihan seperti diamnya mereka yang ditabok bolak balik oleh realitas. Iklan