Kolom Andi Safiah: Maka Anda Adalah
Di luar ideologi Islam menjadi tidak menarik, karena alasan-alas an yang sifatnya 'akidah'.
Bahkan Indonesia yang punya ideologi resmi harus diterjemahkan ke dalam Islam agar memenuhi standard mereka. Lihat saja misalkan Pembukaan UUD 45 dipahami sebagai spirit Islam, karena pada alinea ke tiga tertulis: "Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa." Ini dipahami sebagai spirit Islam, karena tanpa rahmat dari Allah maka bangsa Indonesia mungkin tidak akan pernah merdeka.
Padahal, fakta di balik kemerdekaan bangsa Indonesia sangatlah kompleks. Kompleksitasnya menjadi tidak penting karena ada unsur Allah di sana. Allahlah yang maha penting dan penentu Kemerdekaan Indonesia.
Ketika ada yang berusaha memberikan penjelasan yang sedikit lebih terbuka soal bagaimana bangsa ini lahir, maka akan dicap macam-macam, bahkan bisa sampai pada proses yang lebih kejam yaitu membunuh karier politik seseorang. Lihat saja misalkan, jauh sebelum Indonesia merdeka sebagai anak bangsa yang tergabung dalam berbagai jong (sebuah kata Belanda untuk muda atau pemuda) sudah mengucapkan "Sumpah Pemuda" sebagai spirit awal dalam membangun Indonesia yang datang dari beragam identitas kebudayaan, suku, maupun bahasa. Namun, karena spiritnya adalah ingin membangun sebuah bangsa yang berpijak di atas semangat kebersamaan dan keberagaman, maka mereka dengan sadar dan suka rela menyimpan identitas primordial, lalu berpijak bersama di atas identitas bersama yaitu Indonesia.