Beranda / Kolom Andi Safiah: Tak Hentinya Atas Nama Kolom Andi Safiah: Tak Hentinya Atas Nama Kolom Nasional · 14 Juni 2018 Kekacauaan nalar di republik ini bukan karena absennya Tuhan. Justru karena Tuhan hadir sebagai landasan hidup bernegara kita, maka kekacauaan nalar itu menjadi kenyataan sehari-hari. Tuhan yang dihadirkan dalam ruang-ruang publik hanya akan menjadi permainan bagi pikiran yang picik. Contohnya A-, bagaimana dia memainkan gagasan Tuhan sebagai alat propaganda politiknya, padahal secara etik itu jelas tidak diijinkan oleh akal sehat manusia. Cuman karena sebagai bangsa kita su dah terlanjur melibatkan Tuhan sejak awal Kemerdekaan, maka kita harus terus menerus belajar untuk berkompromi dengan situasi macam ini. Lain halnya bila secara sadar kita sebagai bangsa mulai memindahkan semangat "Ketuhanan" ke dalam ruang-ruang pribadi kita masing-masing. Lalu, belajar mengaktifkan semangat 'kemanusiaan" dalam membangun peradaban Indonesia di masa depan. Perhatikan betapa seorang Jokowi bersusah payah menjelaskan lewat tindakan bagaimana membangun spirit kemanusiaan, walaupun dia tidak punya pilihan selain masuk dalam ruang-ruang "Keagamaan" yang dipaksakan menjadi ruang publik. Yang terjadi tetap salah paham yang tidak akan berujung. Oleh alasan-alasan absurd, ketuhanan dan keagamaan yang tetap saja berDNA kaku, alih-alih saya sebut hypocrite. Jadi, bagaimana jalan keluarnya menurut angan-angan anda? Begini. Kita mulai dengan membebaskan ruang-ruang imaginasi manusia Indonesia. Biarkan rakyat Indonesia berbicara dengan bebas dalam arena dialektika yang memang difasiltasi oleh demokrasi. Jika membicarakan soal Tuhan dan agama harus berakhir di penjara, maka otak manusia Indonesia sebenarnya sedang berada dalam penjara itu sendiri. Iklan