Kolom Asaaro Lahagu: Analisa Janggal 'ngaku Relawan' Pemasang Poster — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Asaaro Lahagu: Analisa Janggal 'ngaku Relawan' Pemasang Poster

Kolom Asaaro Lahagu: Analisa Janggal 'ngaku Relawan' Pemasang Poster

Sepintas lalu teka-teki pemasang poster Jokowi Raja di Jawa Tengah terbongkar. Publik pun manggut-manggut. Ternyata pemasang poster Jokowi raja itu adalah relawan Jokowi-Ma’ruf. Mereka adalah Kaukus Anak Muda Indonesia (KAMI). Sampai di sini kasus dianggap selesai. Kubu Prabowo yang merasa dituduh sebagai biangnya menuntut PDIP meminta maaf. Benarkah demikian?

Sama sekali tidak. Terbongkarnya pemasang poster Jokowi Raja justru memulai babak baru.

Ini adalah operasi penjatuhan paling sempurna yang dilancarkan oleh lawan Jokowi. Pengakuan KAMI sebagai pihak yang bertanggungjawab memiliki beberapa kejanggalan.

Pertama, semua relawan Jokowi sudah dibriefing dan harus paham bahwa mereka tidak boleh menggunakan simbol salah satu partai pendukung. Namun, pada poster Jokowi Raja, KAMI yang mengaku sebagai relawan mengeluarkan simbol partai.

“Pada poster itu ada tanda gambar Banteng Moncong putih (lambang PDIP). Kalau relawan biasanya tidak menggunakan lambang partai. Mereka pendukung Jokowi tapi nonpartisan," ujar Andreas Hugo Pareira sebagaimana dilansir oleh Merdeka.com .

Andreas menegaskan PDI Perjuangan tidak terlibat sama sekali dalam pemasangan poster itu. Dia justru berkeyakinan poster itu akan merusak citra Jokowi sebagai pemimpin negara ataupun untuk memenangkan Pilpres 2019.

Ke dua , berdasarkan pengakuan Andreas Hugo Pareira, PDIP tidak memilliki kader dari partainya yang terafiliasi dengan KAMI. Nama KAMI sendiri baru terdengar setelah viral poster Jokowi Raja itu. Sejak KAMI mendeklarasikan sebagai pendukung Jokowi 16 Agustus lalu di Jakarta, nama relawan itu tidak pernah lagi terdengar.

"KAMI itu siapa? Kenapa memuat tanda gambar PDI Perjuangan? Tidak ada organ partai yang berinisial KAMI. Kenapa menggunakan tanda gambar PDI Perjuangan? Pengakuan ini malah jalan masuk yang bagus untuk ditelusuri siapa mereka, " ucap Andreas.

Ke tiga , Ketua Tim Pemenangan Jokowi (Erick Thoir) menegaskan bahwa koordinasi antar pusat dengan daerah sangat solid. Segala instruksi dari pusat sudah dipikirkan matang-matang. Erick menjamin bahwa dalam segala kampanye Jokowi, tidak ada himbauan untuk mencitrakannya sebagai raja. Bahkan Erick bersedia mundur, jika benar Jokowi mau menjadi presiden seumur hidup.

"Mungkin kalau dia (Joko Widodo) jadi presiden seumur hidup atau jadi raja, ya mungkin saya orang pertama yang mundur dari tim kampanye karena saya percaya demokrasi, " kata Erick Thohir di Kawasan Menteng (Jakarta Pusat) .

Lalu, siapa sebenarnya KAMI itu? Disebutkan bahwa Koordinator KAMI (Ade Irmanus Sholeh) (28), warga Desa Dukuhturi, Bumiayu (Brebes, Jawa Tengah) adalah orang yang bertanggungjawab memasang poster raja Jokowi di wilayah Banyumas. Saat dimintai keterangan oleh Pengurus PDIP dan relawan Projo, dia mengaku sebagai pendukung Jokowi.

Peran Ade sebagai koordinator pemasangan baliho dan poster raja Jokowi diungkap oleh Pengurus PDIP Kecamatan Bumiayu dan relawan Projo setempat. Ade mengaku dirinya memasang poster itu karena mendukung Jokowi dua periode. Kepada pengurus PDIP, Ade menceritakan semua yang terkait dengan peredaran poster tersebut.

Cerita Ade pun sangat kronologis. Namun yang janggal, Ade tidak mengetahui dengan jelas siapa penyandang dana poster itu. Ia hanya menyebut dari pusat. Masalahnya, Ketua Tim TKN Jokowi dari pusat membantah keras dan sama sekali tidak mengetahui perihal poster tersebut.

Lalu, siapa yang bermain dalam poster Jokowi Raja? Kuat dugaan ada penyusup yang mengatasnamakan relawan Jokowi KAMI. Ade Irmanus Sholeh hanya dimafaatkan oleh penyusup. Dengan iming-iming honor lebih Rp. 22 juta, jelas Ade tergiur.

Sampai sekarang sudah lebih 500 kelompok yang mengatasnamankan relawan Jokowi. Banyak diantaranya tak berkoordinasi dengan pusat. Situasi ini menjadi sasaran empuk skenario operasi kubu lawan untuk menyerang citra Jokowi dari dalam.

Jika Jokowi tak dapat ditakhlukan melalui face to face , maka strategi lain dikembangkan demi kemenangan. Salah satunya adalah black propaganda alias kampanye hitam yang sangat halus namun mematikan. Tujuan kampanye ini adalah demonization yang berarti pengiblisan lawan, mendegradasi lawan dengan membuat karakter lawan tampak buruk di mata pemilih.

Jika pada Pilpres 2014, Jokowi dikampanyekan sebagai seorang anti Islam dan keturunan PKI melalui Tabloid Obor, sekarang instrument itu diganti dalam bentuk baru. Skenarionya adalah mencari cara kampanye hitam, namun bisa lolos dari jerat hukum. Pesan dari kampanye hitam itu jelas yakni membuat masyarakat tanpa sadar menerimanya.

Beredarnya poster Jokowi Raja di Jawa Tengah merupakan wujud black campaign yang amat halus. Dalam poster itu, Jokowi digambarkan mengenakan mahkota dan baju kebesaran seorang raja. Poster dibuat seolah-olah dikeluarkan oleh PDIP. Padahal faktanya baik DPD PDIP Jateng, DPP PDIP, pun Tim Kampanye Nasional tidak pernah memproduksi, meminta diproduksi poster Jokowi Raja itu. Sebuah desa di Jawa Tengah[/caption]

Tulisan dalam poster memang sengaja dibuat sehalus mungkin. Tak ada kalimat yang menyerang. Hanya gambar Jokowi yang berpakaian raja. Namun, siapa pun yang memandang poster itu akan muncul dalam hati kecilnya citra buruk tentang Jokowi. Dalam alam demokrasi, sosok raja adalah negatif sebab kekuasaannya tidak diperoleh melalui Pemilu. Kekuasaan raja bersifat abadi dan baru diganti setelah meninggal.

Jadi poster Jokowi Raja adalah black campaign bentuk baru yang sangat halus. Dalam poster itu ada 2 tujuan yang dicapai. Pertama, Jokowi diserang sebagai Presiden dan PDIP sebagai partai pesaing dalam Pemilu. Ke dua memecah persatuan Kubu Jokowi yang terlihat sangat solid dengan cara memisahkan Jokowi dengan Ma’aruf Amin.

Poster Jokowi sebagai Raja jelas lanjutan dari kampanye citra negatif yang telah dibangun oleh lawan. Selama 2 tahun terakhir ini, kubu lawan Jokowi terus-menerus mencitrakan Jokowi sebagai anti demokrasi. Puncaknya ketika ia mengeluarkan Perpu pembubaran Ormas, adanya aksi pembubaran tagar ganti presiden dan menerapkan politik babat alas.

Publik berpandangan bahwa mendukung Jokowi adalah menyelamatkan demokrasi, mempertahankan Pancasila, pluralitas dan Kebhinekaan dalam berbangsa dan bernegara. Mendukung Jokowi adalah mencegah kembalinya kekuasaan otoriter Orde Baru.

Nah, citra ini hendak dirusak dengan menanamkan dalam benak masyarakat bahwa Jokowi adalah raja. Citra ketegasan itu diubah gambarnya oleh lawan Jokowi menjadi Jokowi otoriter dan anti demokrasi.

Kubu lawan Jokowi yang dihuni oleh banyak jenderal jelas semakin cerdas membuat skenario black propaganda dalam bentuk baru. Bentuk poster Raja Jokowi adalah salah satunya.

Untungnya PDIP cepat sadar dan tidak termakan poster halus itu bulat-bulat. Dengan tegas PDIP memerintahkan pencabutan semua poster di seluruh Jawa Tengah. Lalu membiarkan Fadli Zon berpuisi termehek-mehek seraya berlagak playing victim.

Kita tunggu penyelidikan siapa penyusup di belakang Ade Irmanus Sholeh itu. Begitulah kura-kura.