Kolom Asaaro Lahagu: Jk Dukung Jokowi Dengan Ekor — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Asaaro Lahagu: Jk Dukung Jokowi Dengan Ekor

Kolom Asaaro Lahagu: Jk Dukung Jokowi Dengan Ekor

Jusuf Kalla (JK) sedang menari. Tariannya berekor sengat. Ya, sengat kalajengking berbahaya. Ia menari dengan bertemu SBY. Lalu pura-pura tak bicara apa-apa. Kemarin 3 Juli 2018, ia bertemu Airlangga Hartarto. Lalu ia mengatakan, tak bicara apa-apa.

Tarian bersengat JK dibumbui oleh ucapannya mendukung Jokowi pada Pilpres 2019.

Bahkan jika Puan menjadi Capres, ia dukung. Siapa saja yang mau menjadi Capres, ia dukung. Bahkan ucapan JK itu masih ditambah bumbu micin, bahwa dia tidak lagi terjun ke dunia politik. Artinya apa?

JK tetap mendukung siapa saja menjadi Capres 2019, termasuk Jokowi. Lalu ia sendiri ingin fokus menimbang cucu-cucunya. Sangat terang, bukan? Tetapi itu bukan JK sebenarnya. 55 tahun JK kenyang dengan dunia politik. Tindak-tanduk politik tingkat tinggi JK ini harus dilihat dalam kacamata politik. Dalam dunia politik, ada prinsip yang dianut. Pagi tahu, sore tempe. Sesederhana itu. Artinya apa yang diucapkan pagi bisa berubah di sore harinya.

Mengapa JK mau bertemu dengan SBY bulan Juni 2018 lalu? Jelas ada udang di balik kerupuk. Beberapa hari setelah pertemuan itu, muncul opsi duet JK-AHY. Saya menduga dengan keras bahwa ada kesepakatan ngambang tak tertulis antara SBY-AHY-JK. Catur Karo di masa kolonial. Pecatur kiri adalah Pa Kantur Purba Berstagi) yang pernah bermin remise dengan Prof. Dr. Max Euwe Belanda) yang nantinya menjadi Juara Dunia catur sebelum Boris Spasky. Max Euwe juga kemudian menjadi Presiden FIDE.[/caption]

Isinya pertemuan ngambang itu berbunyi: Jika SBY-AHY dapat menarik Golkar ke koalisi kerakyatan atau partai lain, maka JK mau maju jadi Capres. Namun, jika SBY gagal menggoda Golkar, maka AHY siap-siap gigit jari. Jadi, opsi JK-AHY sangat tergantung pada kelihaian SBY meramu koalisi kerakyatan.

JK tentu tidak kehilangan apa-apa. Jika opsi JK-AHY gagal, ia mendukung Jokowi. Inilah ekor kalajengking JK. Ia siap mendukung Jokowi, namun di sisi lain, ia siap menyengat Jokowi dengan menjadi lawannya, jika maunya tak dituruti Jokowi.

Pertemuannya dengan Airlangga Hartarto adalah manufer bersengat JK. Saya menduga keras ada pesan bersengat JK kepada Airlangga dalam pertemuan itu. Pesannya berbunyi: Kita tekan Jokowi agar memilih anda sebagai kader Golkar untuk Cawapresnya Jokowi. Jika tidak, siap-siap alihkan dukungan Golkar kepada SBY.

JK dengan jam terbang politik tinggi, tentu paham betul posisi Jokowi, SBY, Prabowo, Amin Rais dan dirinya sendiri. Saat JK meneropong SBY, sang mantan presiden ini sedang dalam posisi sulit. Jika SBY bergabung dengan koalisi Jokowi tanpa iming-iming AHY sebaga Cawapres, itu merendahkan matabatnya sebagai mantan Presiden.

Jika SBY bergabung dengan Prabowo, ini malah semakin sulit. Prabowo, Amin Rais telah keburu berkonsultasi dengan Rizieq di Arab dan membentuk koalisi keumatan. Bergabung dengan Prabowo di bawah kendali dan ketiak Rizieq yang pernah dipenjara di eranya, sangat memalukan. Itulah sebabnya SBY langsung menolak dan berinisiatif membentuk koalisi kerakyatan sebagai saingan koalisi keumatan.

Usaha membentuk koalisi kerakyatan juga tingkat kesulitannya amat tinggi. Demokrat harus merangkul dua partai lain agar memenuhi syarat pencalonan Presiden: 20 persen suara di DPR atau 25 persen suara di Pemilu legislatif 2014 lalu.

PAN ingin juga Capres atau Cawapres. PKS juga demikian. Gerindra apalagi. Semua ingin menjadi Capres atau Cawapres. Suara Demokrat-PAN tidak cukup. Demokrat-PKS juga tidak cukup. Minimal Demokrat-PAN-PKS atau Gerindra-Demokrat. Tetapi, berkoalisi dengan Prabowo? Itu tadi. Ia sudah dikendalikan Rizieq. Gerindra-PAN-PKS (koalisi keummatan). Belum lagi adanya manufer Amin Rais dengan koalisi ummatnya. Mumet.

Maka, hanya ada tiga langkah strategis yang bisa dilakukan SBY. Pertama, lewat orang lain, ia menggugat ketentuan pencalonan presiden yang 20 persen itu di Mahkamah Konstitusi. Ia meminta syarat pencalonan presiden nol persen. Dengan demikian, SBY-Demokrat bisa mengajukan calonnya sendiri dengan bebas.