Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Bermagnet, Prabowo Frustrasi, Sandiaga — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Bermagnet, Prabowo Frustrasi, Sandiaga

Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Bermagnet, Prabowo Frustrasi, Sandiaga

Sangat mudah menggambarkan karakter Jokowi. Ia adalah sosok sederhana, lurus, tegas, ikhlas, jujur, pintar, pekerja keras dan merakyat. Dari karakter itulah muncul daya magnet luar biasa. Ke manapun pergi, Jokowi selalu menjadi magnet. Apakah pujian ini lebay? Sama sekali tidak.

Kunjungan Jokowi ke Korea Selatan baru-baru ini misalnya, hanyalah salah satu buktinya. Di sana, Jokowi dalam kapasitasnya sebagai kepala negara, disambut ala Raja Korea Kuno di Istana Changdeok. Sebagai catatan, Jokowi adalah kepala negara pertama yang disambut di Istana Changdeok.

Saat Jokowi mengunjungi Hankuk University, para mahasiswa di kampus tersebut heboh luar biasa. Para mahasiswinya kelepak-kelepok. Di Kampus itu, Jokowi memberi kuliah umum yang dihadiri penuh sesak oleh para mahasiswa Korea. Lalu sesudahnya mereka berburu selfi dengan Jokowi.

Jokowipun menutup lawatannya ke Korea dengan bertemu boy-band K-Pop Super Junior. Bukan rahasia lagi bahwa jutaan anak muda Indonesia saat ini sangat menggandrungi bintang-bintang K-Pop Korea. Sekedar informasi, Korea kini sudah menjadi kiblat budaya Pop Indonesia. Ketika Jokowi berfoto dengan boy-band K-Pop, maka anak muda Indonesia yang mengidolakan K-Pop Super Junior menjerit histeris.

Daya Magnet Jokowi bisa dilihat dari ketenaran namanya di Malaysia. Ia dikagumi oleh rakyat Malaysia bukan karena ia hebat berbahasa Inggris, jenius berpidato, bertubuh atletis, kaya raya atau karena suaranya sangat merdu. Jokowi menjadi magnet di Malaysia karena penampilan Jokowi yang amat sederhana.

Saat merayakan pergantian Tahun Baru dari tahun 2016 ke tahun 2017 di Istana Bogor, Jokowi mengenakan kemeja dan sarung kotak-kotak. Kesederhanaan inilah yang membuat iri rakyat Malaysia. Hal itu sangat bertolak belakang dengan pemimpin mereka Nazib Razak yang kerjanya korupsi dan bergaya hidup mewah.

Saat Jokowi berbicara di World Economic Forum on ASEAN di Vietnam 11-12 September lalu, ia menarik perhatian dunia terkait analogi pidatonya soal perang dagang. Ia menyebut bahwa dunia saat ini sedang menuju ke arah infinity war seperti yang digambarkan dalam film Marvel. Jokowi mengibaratkan dirinya sebagai anggota Avengers yang berusaha mencegah Thanos melumat separuh populasi dunia.

Hal yang menarik dalam pidato Jokowi tersebut saat dia mengibaratkan karakter Thanos dengan keyakinan sesat pada seseorang, bahwa untuk meraih kesuksesan, yang lain harus kalah; bahwa kebangkitan suatu kaum berarti kekalahan kaum lainnya. Menurut Jokowi, keyakinan inilah yang harus dirubah. Untuk mencapai kesuksesan, yang lain tidak harus dikorbankan atau dikalahkan. Buah pikiran brilian inilah yang menarik perhatian dunia.

Ketenaran di atas hanyalah sebagian dari magnet Jokowi. Jika ditilik ke belakang, maka daya magnet Jokowi mampu menarik orang dari berbagai kelompok. Perhatikan baik-baik alasan para kepala daerah termasuk alasan kader Demokrat yang berbalik mendukung Jokowi. Pun alasan Erick Thohir bersedia menjadi Ketua Timses Jokowi.

Mengapa mereka mendukung Jokowi? Alasannya adalah jejak Jokowi yang bersih, kesederhanaan dan etos kerjanya yang luar biasa. Inilah yang menjadi daya magnet bagi berbagai pihak ramai-ramai mendukung Jokowi. Tak heran dukungan kepada Jokowi pun mengalir bagai air bah.

Jelas dukungan kepada Jokowi yang terus mengalir, membuat Prabowo frustrasi. Jokowi di mana-mana dielu-elukan bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Sementara Prabowo? Hanya sekedar memeluk Habib Syech saja ditolak. Lalu apa hal lain yang membuat Prabowo frustrasi?

Selain elektabilitas yang stagnan, juga skenario menjatuhkan Jokowi soal Rupiah gagal total. Kubu Prabowo tadinya berharap Rupiah akan amblas hingga Rp 25 ribu per dollar AS. Jika Rupiah terus anjilok, maka Kubu Prabowo punya senjata untuk menjatuhkan Jokowi.

Indonesia memang negeri yang aneh. Rakyat yang tidak suka pemerintah, gembira luar biasa bila Rupiah anjilok dan ekonomi hancur. Mengapa Kubu Prabowo gembira jika ekonomi hancur? Dengan ekonomi yang morat-marit, maka Kubu Prabowo dapat merebut kekuasaan dengan mudah.

Akan tetapi, apa yang terjadi soal Rupiah seminggu terakhi ini? Ternyata Rupiah mampu bertahan di bawah Rp 15 ribu per dollar. Ternyata fondasi ekonomi Indonesia cukup kuat dan tidak mudah goyah. Padahal, narasi yang dibangun Prabowo-Sandi adalah soal morat-maritnya ekonomi. Skenario menjatuhkan Jokowi di Rupiah gagal total.

Kini Sandiaga hanya bisa menggelepar-menggelepor. Ia bagaikan ikan yang kehabisan nafas ke sana ke mari tak tentu arah. Sekali waktu, ia menyerang Jokowi bahwa saat ini uang Rp 100 ribu hanya bisa beli bawang dan cabe. Padahal yang Rp 100 ribu masih bisa beli beras, daging ayam, sayur dan sebagainya.

Gagal soal uang Rp 100 ribu dan bahkan dibully, Sandiaga menggelepar lagi. Ia menyerang Jokowi lewat tempe. Menurutnya karena krisis dollar, maka ketebalan tempe saatnya setipis ATM. Namun, ketika ia disodorkan tempe ukuran jumbo oleh keluarga Yenny Wahid, Sandiagapun tersipu malu.

Gagal di tempe setipis ATM, Sandiaga menggelepar lagi. Ia iri melihat dukungan para kepala daerah kepada Jokowi. Melihat Jokowi didukung oleh banyak kepala daerah, maka Sandiaga menyerang mereka. Ia mengatakan bahwa hendaknya kepala daerah fokus membangun daerahnya dan tidak mendukung Capres tertentu.

Serangan Sandiaga ini langsung diskak mat oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Ridwan langsung membalas Sandiaga dengan memintanya ngaca terlebih dahulu. Sadar akan dosa-dosanya, Sandiagapun langsung meminta maaf kepada Ridwan Kamil.

Gagal soal larangan kepada kepala daerah, munculah narasi debat dalam Bahasa Inggris. Namun, belum selesai dijelaskan maksud Kubu Prabowo soal debat Bahasa Inggris itu, usulan itu langsung diserang bertubi-tubi. Masyarakat menganggap usul debat dalam Bahasa Inggris akal-akalan Prabowo agar visi dan misinya tidak dimengerti masyarakat bawah. Selain itu, debat dalam Bahasa Inggris merupakan bukti kuat begitu frustrasinya Kubu Prabowo berhadapan dengan Kubu Jokowi. Kalau begitu #JokowiLagi.