Beranda / Kolom Asaaro Lahagu: Kena Taktik Ini, Prabowo Marah Besar Kolom Asaaro Lahagu: Kena Taktik Ini, Prabowo Marah Besar Budaya · 6 Desember 2018 Prabowo marah besar. Pasalnya, kehadirannya pada reuni 212 yang dihadiri 40 ribu peserta itu tidak diliput media. Reuni akbar yang diklaim Prabowo 11 juta itu seharusnya diliput besar-besarnya. Kegiatan itu seharusnya dijadikan sebagai headline media-media. Faktanya reuni 2 Desember 2018 tak diliput oleh sebagian besar media mainstream. Pemberitaannya sepi. Padahal Prabowo sudah bermimpi. Ia ingin disorot media secara besar-besaran. Wajahnya di atas panggung 212 menghiasi koran, majalah, layar televisi, website online, beranda media sosial, selama berhari-hari. Akan tetapi, mimpi Prabowo itu sirna, tak pernah terwujud. Prabowo gagal. Ia pun marah kepada dua pihak. Pertama, ia marah kepada media dan semua wartawan. Ke dua, ia marah kepada Jokowi yang dituduhnya berada di balik sepinya pemberitaan media terhadap dirinya. Lalu, mengapa media tidak meliput Prabowo pada reuni 212 itu? Pertama, reuni 212 itu sendiri sudah salah istilah. Dari zaman kuno, zaman bahelo sampai zaman digital ini, istilah reuni belum tercemar dan tergradasi maknanya. Istilah reuni dipakai oleh sekelompok orang yang sudah selesai belajar atau latihan pada tahap tertentu dan ingin kembali bernostalagia setelah beberapa tahun. Faktanya reuni 212 itu adalah sebuah aksi demonstrasi. Demonstrasi penggulingan pemerintah yang sah. Dari sejarah demo 212 itu sebelumnya, terlihat dan terarah tujuannya yakni untuk melengserkan Jokowi lewat Ahok. Dan, demo menggulingkan pemerintah, jelas tidak mengenal istilah reuni sampai kiamat dunia sekalipun. Jelas media tidak mau dibohongi oleh istilah reuni yang salah kaprah itu. Media tidak rela dikangkangi oleh sebuah istilah ngawur. Media juga tidak mau menjadi bagian dari aksi merongrong pemerintah yang secara konstitusional. Media ingin menjaga jarak. Ke dua, kegiatan 212 itu sama sekali tidak bermanfaat bagi rakyat Indonesia. Buktinya, setelah reuni itu tak ada dampak apapun bagi kemajuan bangsa. Malah kegiatan 212 itu berpotensi memecah belah bangsa. Bendera-bendera HTI menyusup bersama bendera tauhid berkibar di mana-mana. Sementara bendera merah-putih sebagai pemersatu bangsa dikerdilkan. Iklan