Beranda / Kolom Asaaro Lahagu: Menebak Jitu Sosok Cawapres Kolom Asaaro Lahagu: Menebak Jitu Sosok Cawapres Berita terkini Kolom Partai politik Pemilu · 7 Juni 2018 Siapa cawapres Jokowi? Ini pertanyaan menarik. Karena jawabannya terbuka. Cawapres Jokowi bisa dari 12 orang yang diusulkan oleh PSI. Bisa Airlangga Hartarto, Chairul Tanjung, Din Syamsuddin, Luhut Panjaitan, Muldoko, Mahfud MD, Nadiem Makarim, Rusdi Kirana, Said Agil, Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti dan Yaqut Cholil Qoumas. Cawapres Jokowi juga bisa dari luar 12 orang yang telah diusulkan PSI di atas. Bisa Prabowo Subianto, Muhaimin Iskandar, Romahurmuziy, Budi Gunawan, Agus Harimurti Yudhoyono, Jusuf Kalla, Puan Maharani, Tito Karnavian dan Gatot Nurmantyo. Jadi, total Cawapres Jokowi 21 orang. Saya yakin Cawapres Jokowi ada dalam daftar 21 orang ini. Mengapa? Hanya itu orang yang muncul ke permukaan selama ini dan disebut-sebut sebagai Cawapres Jokowi. Lalu, bagaimana cara menebak dengan jitu sosok Cawapres Jokowi? Untuk menebaknya, kita harus cocokkan dengan karakter Megawati sebagai king maker di belakang Jokowi. Itu yang pertama. Yang ke dua, kita harus juga cocokkan dengan karakter Jokowi sebagai calon Presiden periode ke dua. Ke tiga, kita harus lihat situasi politik, situasi lawan, situasi ekonomi dan situasi keamanan mulai saat ini hingga bulan 19 April 2019 mendatang. Menurut kalkulasi saya, sosok Cawapres Jokowi harus dari partai. Mengapa? Jokowi butuh dukungan dari DPR. Tanpa ikatan kuat lewat partai, maka partai pendukung Jokowi saat ini bisa sewaktu-waktu bermanufer dan menyeberang ke pihak lawan. Ini berbahaya. Pengalaman SBY saat memilih Budiono dulunya merupakan blunder besar. Karena Budiono bukan dari partai, maka SBY menjadi bulan-bulanan Golkar dan PKS dalam Pansus Century. Di Senayan, Gerinda, PKS, PAN dan Demokrat bisa dengan licik melobi partai pendukung Jokowi. Jika ada satu-dua partai lagi bergabung, maka Jokowi bisa keteteran seperti pada awal-awal jabatannya sebagai presiden. Di sana Koalisi Indonesia Hebat dipreteli habis-habisan oleh Koalisi Merah-Putih. Untungnya Jokowi dan JK dengan beberapa taktik, akhirnya mampu menghancur-leburkan KMP. Berdasarkan kriteria bahwa Cawapres Jokowi harus dari partai, maka nama-nama Cawapresnya seperti Chairul Tanjung, Din Syamsuddin, Luhut Panjaitan, Muldoko, Mahfud MD, Nadiem Makarim, Rusdi Kirana, Said Agil, Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti Yaqut Cholil Qoumas, Budi Gunawan, Jusuf Kalla, Tito Karnavian dan Gatot Nurmantyo, otomatis langsung tersingkir dari daftar. Jadi, sekarang, Cawapres Jokowi tinggal 6 orang. Mereka adalah Airlangga Hartarto, Prabowo Subianto, Muhaimin Iskandar, Romarhumuziy, Agus Harimurti Yudhoyono dan Puan Maharani. Dari 6 orang Cawapres itu, kita singkirkan nama Puan Maharani. Mengapa? Megawati Soekarno Putri pasti menginginkan sekali Puan Maharani menjadi Cawapresnya Jokowi. Hitung-hitungannya sederhana. Pilpres 2024. Jika sekarang ini Puan berhasil menjadi Wakil Presiden, maka peluang menjadi Capres 2024 semakin besar. Namun, itu tidak mudah. PDIP sudah diwakili oleh Jokowi. Jika ditambah Puan Maharani lagi, maka apa kata partai lain pendukung Jokowi? Bisa-bisa partai pendukung kabur semua. Sekarang, tinggal 5 orang lagi sosok Cawapres Jokowi. Semuanya dari partai. Ada nama Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, Romi, Prabowo Subianto dan Agus Yudhoyono. Siapa yang akan kita singkirkan selanjutnya? Kita singkirkan nama Prabowo Subianto dan Agus Harimurti Yudhoyono. Mengapa? Prabowo sudah mendeklarasikan dirinya sebagai Capres. Lalu dengan Agus pun, semakin sulit. Hubungan Jokowi dengan SBY kerap pasang surut. SBY saat ini sudah menggalang poros ke tiga atau bergabung dengan Prabowo. Jadi, peluang Agus yang digadang-gadang sebagai Cawapres Jokowi semakin kecil. Dengan tersingkirnya nama Prabowo dan Agus Harimurti Yudhoyono dari daftar, maka sekarang tinggal 3 orang lagi nama cawapres Jokowi. Mereka adalah Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar dan Romahurmuziy atau Romy. Kita langsung singkirkan nama Muhaimin Iskandar. Mengapa? Pendukung utama Muhaimin adalah dari kalangan NU. Artinya sama saja dengan Jokowi. Sebagian besar warga NU mendukung Jakowi. Di samping itu Muhaimin tersandung dua kasus di KPK. Jika dia dipaksa menjadi Cawapresnya Jokowi, maka lawan bisa memanfaatkan isu itu untuk menggebuk Jokowi. Sekarang tinggal 2 kandidat Cawapres Jokowi. Ada nama Airlangga Hartarto dan Romahurmuzy. Siapa di antara keduanya yang paling cocok dengan Jokowi? Ada yang mengatakan bahwa Romahurmuzy. Mengapa? Dia dari kalangan santri. Ia dipandang sebagai sosok pemimpin yang pintar dan religius. Isu-isu yang menghantam Jokowi lewat agama bisa dinetralisir oleh Romy. Lalu apakah Romy kandidat terkuat Cawapres Jokowi? Saya tidak mengiyakannya. Mengapa? Jika Romy dipilih oleh Jokowi, maka ada kecemburuan tingkat tinggi dari Muhaimin. Dalam beberapa bulan terakhir, kedua pimpinan partai ini saling sindir di sosial media. Ujung-ujungnya jika salah satu dari kedua orang ini dipilih oleh Jokowi, maka ke depan bisa terjadi perpecahan. Soal isu agama yang katanya bisa discounter oleh Romy, kita lihat data yang ada. Menurut data internal istana, isu agama sudah selesai. Mayoritas penduduk Indonesia percaya bahwa Jokowi pemeluk Islam tulen. 53,6 % masyarakat yang percaya bahwa Jokowi sangat dekat dengan ulama. Sementara yang percaya bahwa Jokowi anti Islam dan anti ulama tinggal 8,6%. Itu berarti peran sosok cawapres yang diharapkan bisa membendung soal agama, sudah tidak dibutuhkan lagi. Cukup seorang Mahfud MD (bisa masuk tim pemenangan Jokowi), yang menangani soal isu agama. Sedangkan isu lain seperti PKI sudah cukup ditangani oleh Muldoko. Isu Keamanan, sudah cukup ditangani oleh Tito Karnavian yang berkolaborasi dengan Panglima TNI Hadi Tjahjanto. Isu yang dilempar oleh Fadli Zon, Fahri Hamzah, Amin Rais, Mardani Ali Sera sudah cukup ditangani oleh seorang Ngabalin. Dengan demikian, nama Romy kita singkirkan dari daftar. Dengan tersingkirnya nama Romy maka praktis tinggal nama Airlangga Hartarto yang menjadi pilihan Cawapres Jokowi. Mengapa Airlangga? Data internal istana menunjukkan bahwa yang dibutuhkan Jokowi saat ini adalah sosok yang bisa menangani isu-isu kebutuhan pokok, lapangan kerja, pemerataan kesejahteraan. Airlangga Hartarto cocok mengemban tugas itu. Dari profilnya, pendidikan, pengalaman kerja, pengalaman berorganisasi, prestasi, Airlangga Hartarto mempunyai beberapa kelebihan jika menjadi Cawapres Jokowi. Pertama, dia orang Islam. Ini cocok dengan karakter bangsa Indonesia yang mengharuskan Capres maupun Cawapres harus Islam (64,8 %). Airlangga adalah pemeluk Islam tulen. Ke dua, Airlangga berasal dari Jawa. Ia kelahiran Jawa Timur 1 Oktober 1962. Sekarang umurnya 55 tahun. Masih muda. Karena ia berasal dari Jawa Timur, Airlnagga bisa mengambil alih suara Muhaimin dari Jawa Timur jika sewaktu-waktu Muhaimin berbelok arah. Ke tiga, Airlangga adalah Ketua Umum Partai Golkar. Partai ke dua pemenang Pemilu. Kolaborasi antara PDIP dan Golkar di DPR bisa mengamankan Jokowi dari gangguan Gerinda, PKS, PAN dan Demokorat. Ia juga pernah menjadi anggota DPR dan paham permainan di Senayan. Sebagai Ketum Golkar, Airlangga dengan mudah bisa menggerakkan mesin partai Golkar untuk mendukung Jokowi. Apalagi Golkar adalah partai tertua yang sudah kenyang pengalaman. Ke empat, bisa menjaga koalisi pendukung Jokowi dari perpecahan. Jika Airlangga yang menjadi Cawapres Jokowi, maka Muhaimin Iskandar dan Romy tidak bisa memprotes. Airlangga adalah Cawapres dari partai pendukung. Partai yang lebih besar dari PKB dan PPP. Airlangga juga diyakini mampu merangkul semua fraksi pendukung Jokowi. Ke lima, Airlangga akan meneruskan kolaborasi PDIP dengan Golkar. Kita tahu bahwa Jusuf Kalla yang menjadi Wapres Jokowi juga sebetulnya dari Golkar. JK adalah mantan Ketua Umum Golkar. Jadi, bentuk kerja sama antara PDIP dan Golkar akan berlanjut untuk menyelesaikan program Nawacita Jokowi yang belum terealisasi. Iklan