Beranda / Kolom Asaaro Lahagu: Pengkhianat Di Mako Kolom Asaaro Lahagu: Pengkhianat Di Mako Berita terkini Hukum Kolom Nasional · 9 Mei 2018 Selasa, 8 Mei 2018 malam, terjadi kerusuhan di Rutan Mako Brimob, Depok Jawa Barat. Lima polisi dan satu tahanan teroris tewas. Peristiwa itu mengagetkan publik. Berita tentang peristiwa itu pun simpang-siur. Foto-foto kejadian di Mako berkeliaran masif di sosial media. Hal mengagetkan adalah berita kerusuhan di Mako Brimob itu secara cepat dilansir oleh media-media luar negeri. Di tengah usaha polisi mengendalikan situasi, ISIS melalui Amaq News Agency mengklaim bahwa pejuang mereka tengah terlibat dalam pertempuran sengit dengan polisi anti teroris di Indonesia. ISIS pun menyatakan bertanggung-jawab atas kerusuhan itu. Apa sebetulnya yang terjadi di Mako Brimob? Beberapa pertanyaan pun muncul. Adakah kaitan kerusuhan di Mako Brimob dengan ISIS? Apakah ada benang merah antara peristiwa itu dengan penolakan gugatan HTI di PTUN? Apakah ada kaitannya lagi dengan pemilihan lokasi karena Ahok kebetulan ditahan di Mako Brimob? Lalu siapa pengkhianat di Mako Brimob? Dari keterangan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Pol M. Iqbal, terlihat bahwa polisi tampak sangat irit dan berhati-hati dalam memberikan informasi. Hingga petang hari, 9 Mei 2018, masih ada negosiasi antara para tahanan dengan polisi. Besar kemungkinan karena para tahanan telah merebut senjata dan menyandera anggota polisi. Kok hal itu bisa terjadi? Menurut polisi, kerusuhan telah terjadi di Blok B dan C rutan Mako Brimob. Dua blok tersebut dihuni tahanan yang terkait dengan kasus terorisme. Penyebab kerusuhan terkait dengan titipan makanan dari keluarga tahanan yang tidak sampai kepada tahanan. Benarkah demikian? Jika dilihat kembali ke belakang, mengutip CNN Indonesia, kerusuhan di Mako Brimob itu adalah yang kedua kalinya. Insiden pertama terjadi pada 10 November 2017 yang juga melibatkan para tahanan yang terkait kasus terorisme. Saat itu tahanan tidak terima dan mengamuk ketika petugas rutan menemukan empat unit ponsel milik tahanan dan menyitanya. Mengapa begitu mudahnya terjadi kerusuhan di Mako Brimob? Padahal penjagaan di sana terkenal sangat ketat? Bahkan tak sedikit yang menyebutnya sebagai rutan yang angker? Ternyata penjagaan ketat hanya di luar sedangkan di dalam begitu longgar. Di luar memang angker namun di dalam para penghuni tidak diawasi dengan ketat. Mengapa di dalam tahanan gerak-gerik para tahanan kurang diawasi? Alasannya bisa jadi karena Rutan di Mako dihuni oleh orang-orang gede. Lihatlah di Blok B. Di blok itu pernah ditahan Komisaris Jenderal Susno Duadji, Muchi Purwopandjono, Aulia Pohan dan Bibit Samad Rianto. Di Blok C ada Gayus Tambunan, Jaksa Urip Gunawan, Hamka Yandhu, Williardi Wizar, Bun Bunan Hutapea, Antony Zidra Abidin dan Chandra Hamzah pernah menghuni blok ini. Lalu terakhir, ada Ahok yang juga ditahan di Mako Brimob. Karena dihuni orang-orang gede, maka fasilitas yang tersedia cukup ‘nyaman’ untuk ditingggali. Seperti dilansir oleh Tribunnews 2010, sel di blok B misalnya, dilengkapi kasus pegas dan mesin penyejuk udara. Tak hanya itu, tersedia pula televisi 14 inch dan kamar mandi. Sementara di blok C, tersedia sebuah bangunan ruangan lobi, sebuah bangunan untuk memanusiakan para tahanan dalam besosialisasi terhadap tahanan lainnya. Di tempat itulah para penghuni ruang tahanan bercengkrama menghabiskan masa hukuman. Iklan