Beranda / Kolom Asaaro Lahagu: Sby--prabowo Masuk Perangkap Kolom Asaaro Lahagu: Sby--prabowo Masuk Perangkap Berita terkini Kolom Partai politik Pemilu · 1 Agustus 2018 Istana lupa mengingatkan Ngabalin soal SBY. Padahal manufer SBY untuk bersikap melankolis sudah benar. Ungkapan memelas SBY bahwa dia masih belum ditakdirkan berbaikan dengan Megawati, juga sudah benar. Artinya sesuai dengan skenario yang diinginkan istana. Ngabalin memang terlalu lancang mengungkap isi kesepakatan SBY-Jokowi. Harus diakui bahwa ada missing link di tim komunikasi Presiden. Hubungan antara Johan Budi, jubir Presiden Jokowi dengan Ngabalin terlihat kurang sreg. Ketika ada isu penting, keduanya nampak kurang koordinasi. Tak heran jika Ngabalin lebih banyak berinisiatif untuk berbicara langsung kepada pers. Sementara Johan Budi terlihat tenggelam sendiri. Kurangnya koordinasi antara keduanya nampak ketika SBY memilih merapat kepada Prabowo. Ngabalin yang melihat manufer SBY itu, dan sudah tahu kesepakatan SBY-Jokowi sebelumnya, langsung muntah. Ngabalin kesal. Saking kesalnya, Ngabalin langsung membuka kartu SBY-Jokowi. Apa isi kartu itu? SBY-Jokowi sudah sepakat bahwa AHY akan menjadi menteri Jokowi setelah Pilpres mendatang. Imbalannya SBY bergabung dengan koalisi Jokowi. Tentu saja SBY malu besar atas pernyataan Ngabalin itu. Itulah sebabnya SBY mengecam Ngabalin begitu keras. SBY menegur keras Ngabalin agar hati-hati kalau bicara. Kecaman SBY kepada Ngabalin itu membuat istana tersadar bahwa kode belum dikirim kepada Ngabalin. Secara kilat kemudian, lingkar satu istana meminta Ngabalin agar meminta maaf kepada SBY. Dan memang kemudian sebagaimana publik ketahui bahwa Ngabalin meminta maaf kepada SBY. Masalah selesai. Istana bersyukur. Skenario berlanjut. Ketika kodenya dipahami, Ngabalin kemudian manggut-manggut. Saat nama Anies-AHY menguat secara mengejutkan, istana seperti kebakaran jenggot. Skenario istana terancam gagal. Ngabalin pun ditugaskan agar kembali memframing duet Prabowo-AHY. Artinya apa? Dalam sebuah diskusi politik baru-baru ini, Ngabalin berulang kali menyebut duet Prabowo-AHY sangat cocok. Istana memang sedapat mungkin menjadikan Prabowo sebagai lawan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang. Nama-nama lain yang potensial dihindari. Kalau calon alternatif semacam Anies-Aher, Gatot-Anies yang dimajukan, perhitungannya belum jelas. Tetapi kalau Prabowo yang maju, perhitungannya sudah kelihatan. Artinya rekam jejak Prabowo menjadi ‘senjata’ andalan Jokowi. Dengan membaca gelagat istana itu, maka sangat logis jika Jokowi menggagalkan diri berkoalisi dengan SBY. Sebetulnya SBY sudah berkali-kali meminta kesepakatan lebih lanjut soal posisi Demokrat dalam koalisi Jokowi. Apalagi separuh pendukung Demokrat sudah menyatakan dukungannya kepada Jokowi. Dukungan TGB di NTB, Khofifah di Jatim dan para kader Demokrat lain yang lebih memilih Jokowi, menampar keras SBY. Taktik Jokowi menggagalkan diri berkoalisi dengan SBY, tidak lepas dari manufer PKS-PAN di kubu Prabowo. Jokowi melihat Prabowo sedang terancam gagal maju menjadi Capres karena posisinya terus-menerus dijepit oleh PKS. PKS-PAN sedang berusaha mendikte Prabowo dengan menghalanginya maju sebagai Capres. Ada keyakinan di kubu PKS-PAN bahwa hasil kompetisi Prabowo vs Jokowi jilid II akan terulang seperti tahun 2014 lalu. Terjepitnya Prabowo terlihat semakin jelas oleh manufer Amin Rais. Untuk mengalihkan perhatian Prabowo, Amin Rais memecah ombak dengan menyatakan ingin maju sebagai Capres. Amin Rais jelas memancing di air keruh. Artinya, demi majunya Anies-Aher, Amin Rais berpura-pura nantinya menyerah. Hal yang sama juga diminta kepada Prabowo. Terkesan Amin dan Prabowo sama-sama legowo untuk tidak maju. Nah, ini yang berbahaya. Jika Anies-Aher yang menjadi lawan Jokowi, maka hitung-hitungannya belum ada. Bukan berarti Jokowi takut kepada Anies-Aher atau Gatot-Anies, namun jauh lebih nyaman jika Prabowo yang menjadi lawannya. Ada kalkulasi berbahaya jika SBY masuk dalam koalisi Jokowi. Selain Prabowo tidak jadi maju sebagai Capres, juga Jokowi berpotensi melawan kotak kosong. Sebetulnya ada kebingungan dalam diri Jokowi untuk mencari pasangannya. Itulah sebabnya ada gelagat Jokowi yang berupaya menggandeng calon potensial lainnya untuk Pilpres 2019. Calon-calon potensial itu dibuat seolah-olah mereka cocok menjadi Cawapres Jokowi daripada menjadi lawannya. Dengan kata lain ada strategi Jokowi untuk tidak menjadikan calon potensial lain sebagai lawan politiknya. Untuk merusak skenario PKS-PAN, Jokowi kemudian tidak berusaha lagi bernegoisasi dengan SBY. Jokowi kemudian memasang muka masam yang seolah-olah tidak membutuhkan SBY. Bahkan secara jelas Jokowi menggagalkan diri berkoalisi dengan SBY dengan memakai nama Megawati. Hal ini agar SBY terpaksa berkoalisi dengan Prabowo. Jika SBY merapat kepada Prabowo, maka otomatis rusaklah skenario PKS-PAN. Dan, sebagaimana publik tahu, bahwa yang terjadi memang demikian. Pertemuan kedua antara SBY-Prabowo menghasilkan kesepakatan berkoalisi. Skenario PKS-PAN kemudian berantakan dan hancur. SBY kemudian memegang kendali koalisi. SBY meyakinkan Prabowo agar maju sebagai Capres dan meminta AHY sebagai Cawapresnya. Namun, agar PKS-PAN bisa bergabung dengan koalisi SBY-Prabowo, SBY kemudian melempar pernyataan yang seolah-olah menyerah. SBY mengatakan bahwa soal Cawapresnya, diserahkan sepenuhnya kepada Prabowo. Nah, ini sebetulnya sebuah taktik juga. Iklan