Kolom Bastanta P. Sembiring: Seruan Dalai Lama 'pesikap Kuta — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Bastanta P. Sembiring: Seruan Dalai Lama 'pesikap Kuta

Kolom Bastanta P. Sembiring: Seruan Dalai Lama 'pesikap Kuta

Soal Pernyataan Dalai Lama beberapa harii lalu saat mengunjungi Swedia yang mengejutkan kaum Globalist, sebagaimana ditulis di Kolom M.U. Ginting (Dari Swedia Dalai Lama Mengejutkan Kaum Globalis) (lihat di SINI ), Dalai Lama berkata: "Setelah para pengungsi mendapatkan pendidikan di Swedia (Eropah) mereka perlu kembali ke negerinya untuk membangun negerinya masing-masing." Peryataan Dalai Lama ini jelas politis, mengandung multi tafsir. Namun ada benarnya, bahkan banyak benarnya.

Kita ketahui, para pencari suaka ke Eropa, Australia dan Asia lainnya sebagaian besar merupakan asal dari Afrika dan Timur Tengah. Kasus utama di negeri asalnya adalah peperangan dan kelaparan.

Beberapa negara, utamanya di Eropa, membuka pintu bagi pencari suaka dengan berbagai alasan yang tak selamanya berkutat pada kemanusiaan. Mereka telah memikirkan untung rugi secara politis, ekonomi, dan dampak sosial. Dan, itu fleksibel, tergantung waktu dan kelompok yang berkuasa.

Tetapi, apakah kita juga telah memikirkan dampak berkelanjutan terhadap negeri asal mereka?

Afrika, Timur Tengah, dan wilayah belahan dunia lainnya akan terus berperang dan kelaparan serta menjadi penghasil manusia pencari suaka jika tidak ada niat masyarakatnya sendiri untuk mendamaikan dan memperbaiki negerinya. Ini yang perlu diingatkan dan disadarkan.

Ekspatriat yang telah mengenyam pendidikan dan kesejahteraan ekonomi di perantauan harusnya dapat menjadi agen-agen perdamaian dan perubahan untuk negeri asalnya.

Seperti halnya di Indonesia ada kita kenal dengan istilah “sarjana membangun desa”, atau di masyarakat Suku Karo ada istilah populer, “pesikap kuta kemulihem ” yang jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, “membangun kampung halaman.”

Istilah pesikap kuta kemulihen ini tentu ditujukan kepada warga Suku Karo atau perantau asal Taneh Karo yang telah sukses secara pendidikan dan eknomi di perantauan. Mereka diharapkan dapat kembali untuk membangun kampung halamannya. Terjemahan saya atas pernyataan Dalai Lama itu, kurang lebih demikian.

“Eropah adalah milik orang Eropa,” katanya lagi.

Ini sebuah pernyataan yang bagi kaum globalis dan Main Stream Media (MSM) bisa dibilang “terlalu!”. Tetapi, perlu diingat, tidak ada pasti 100% individu bersifat globalist. Semua punya ruang khusus dalam dirinya, baik itu sukunya, agama, kota, negara, dsb. Pembicaraan itu hanya kita temukan di kelompok atau posisi mayoritas.

Bahkan Amerika dengan dominasi dunianya, mulai dari politik, pertahanan dan ekonomi, di era Presiden Trump harus kembali menyuarakan nasionalisme untuk menguatkan kembali kekuatan dalam negerinya.

Kaum konservaif Eropah tentu telah membaca dengan pasti akan dampak perubahan sosial di Eropah yang saat sekarang sudah terlihat. Semua bangsa-bangsa di manapun di dunia ini akan melakukan antisipasi terhadap semua kemungkinan ini.

Jadi, apa salahnya pernyataan Dalai Lama ini?