Beranda / Kolom Boen Syafi'i: Garis Kolom Boen Syafi'i: Garis Berita terkini · 27 Mei 2018 Seberapa besar dan kuatnya pun ambisi manusia dalam merengkuh kejayaan, namun bila Gusti ALLOH belum merestui, apa yang menjadi hajatnya, maka niscaya hanya kesia-siaan belaka yang mereka dapati. Sebuah filosofi erat yang dipegang oleh Orang Jawa kebanyakan sampai saat ini. yakni "nrimo ing pandum" atau menerima segenap pemberianNya dengan hati ikhlas dan syukur nikmat. Manusia yang "ngeyel" atau tidak bisa menerima kehendak dariNya, dapat dipastikan hidupnya akan sengsara batinnya meskipun kaya. Sengsara hatinya meskipun semua serba ada. Semua ada prosesnya, dan tidak ada kesuksesan sempurna yang diraih dengan cara instan, apalagi menghalalkan segala cara lewat fitnahan dan kebencian. Contoh paling nyata ketika pertarungan sengit antara Prabowo dan Jokowi di Pilpres 2014 kemarin. Kurang apa coba Prabowo dan pasangannya Hatta Rajasa (Prahara) waktu itu? Dukungan petahana ada, kekuatan intelijen, pemetaan wilayah, sampai dukungan logistik yang tak terbatas, seharusnya membuat mereka memenangkan game ini dengan mudahnya. Tetapi takdir berkata lain. Seorang yang sedari kecil tidak pernah kepikiran sedikit pun untuk menjadi presiden, dari keluarga sangat sederhana, tukang kayu, wong ndeso, kerempeng dipilih oleh Tuhan Sang Maha Kuasa. Sebaliknya yang berambisi sedari kecil ingin menjadi presiden masuk tentara dan "masuk" Islam hanya untuk memuluskan jalan menuju istana. Ternyata diabaikan begitu saja, oleh Tuhan Sang Pemilik jagad, alam semesta raya. Iklan