Kolom Daud Ginting: Anak Mami Outside The — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Daud Ginting: Anak Mami Outside The

Kolom Daud Ginting: Anak Mami Outside The

Di saat ananda mengatakan "Outside The Box", tentu Mami teramat sangat senang mendengarnya. Relung hati Mami berbunga-bunga menyimaknya. Kamu benar Nak, sebagai generasi muda harapan bangsa kamu mesti berpikir dan bertindak outside the box. Jika itu telah kamu lakukan berarti kamu sudah matang, mampu berpikir lateral, mampu berpikir lain dari yang lain, artinya kamu mampu menawarkan pemikiran dan solusi alternatif.

Itulah kreatifitas.

Jika ingin sukses dalam karir, seseorang mesti memiliki keunggulan komperatif dibandingkan orang lain. Jika tidak memiliki nilai lebih atau tidak beda dengan yang lain, itu namanya kamu follower, ikut-ikutan, suka meniru.

Semua orangtua pasti bangga jika melihat anaknya sudah mampu bertindak dan berpikir matang dan mandiri, apalagi memiliki nilai lebih sebagai modal memetik kesuksesan sebagaimana idaman setiap Ibu yang mencintai anaknya.

Oleh karena itu, sebagai anak yang ingin membanggakan orangtua harus hati-hati bicara di hadapan publik. Jaga penampilan agar citramu tidak melorot ke titik nadir. Pencitraan itu penting untuk meningkatkan popularitas, sudah barang tentu akan menaikkan elektabilitas. Nah, soal "ISI TAS", slow but sure !!!

Kembali ke soal "Outside The Box". Narasi ini sangat menarik karena dalam pelatihan human resources development, untuk memberdayakan seseorang menjadi lebih sukses diperlukan kemauan seseorang untuk meninggalkan zona nyamannya untuk bergeser menjadi mampu berpikir alternatif sebagai bentuk sikap kreatifitas.

Hanya orang kreatif mampu memetik sukses, dan orang yang mampu memproduksi hal-hal baru. Produk yang memiliki keunggulan lah yang mampu leading di pasar persaingan. Jika seseorang tidak memiliki kreatifitas dan keunggulan dia akan jadi pecundang.

Menjelang kontestasi Pilpres 2019, secara kasat mata terlihat jelas persaingan itu makin hangat, bahkan terkesan ingin saling menjegal dengan segala cara alias tidak rasional. Menjelekkan kompetitor dengan cara menebar rasa kebencian, mengkritik incumben asal "ngoceh" tanpa menawarkan alternatif pemikiran, bahkan ada yang lupa kritikannya justru menjadi serangan balik kepada dirinya sendiri.

Masih segar dalam alam bawah sadar kita, ada kritikan terhadap Pemerintahan Jokowi bahwa pembangunan infrastruktur yang dilakukan kabinetnya dianggap mengabaikan keberpihakan terhadap penderitaan rakyat. Pembangunan infrastruktur, baik jalan tol, pelabuhan, Bandara dan bendungan seakan sebatas gagah-gagahan.

Mereka lupa pemerintahan Jokowi menerapkan prinsip "Bukan memberi ikan kepada masyarakat, tetapi memberikan kail". Bukankah jika memberi ikan hanya cukup untuk dimakan satu hari? Pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai) dan subsidi BBM memang enak terdengar dan menyenangkan masyarakat serta meningkatkan popularitas tetapi jangan lupa bahwa hal itu manipulatif -meninabobokan- masyarakat.