Kolom Edi Sembiring: "multatuli Wanita" Menulis Berastagi Dalam Novel
"Aku merasa bergairah!" dia tertawa gembira.
"Dan kau, anak malang, malam ini harus kembali kepanasan lagi!"
Tiba-tiba diciumnya John, melonjak bagaikan anak mabuk.
"Hati-hati," kata John sambil tertawa, "nanti kita terbang masuk jurang."
Nama penulis ini dibicarakan di kalangan kolonial: Madelon Lulofs dianggap penghianat. Namun, bagi penentang penjajahan ia justru dianggap pahlawan, sampai-sampai ada yang menjulukinya Multatuli Wanita. Seperti cerita berikut: Kota Berastagi di masa Kolonial, di daat penulis novel Rubber mengadakan liburan ke sana.[/caption]
"Kutukan Deli!" kata John, "perjudian itu!"
Madelon Lulofs berkata, "saya hanya mencoba sebaik-baiknya menyajikan kembali kekasaran, kepahitan dan acap kali kemerosotan kehidupan tropis, yang di dalamnya tersembunyi suatu tragedi yang amat besar dari penderitaan dan kesengsaraan manusia." Cara berpakaian perempuan Karo yang sudah kawin di Jaman Kolonial sebagaimana digambarkan di novel Rubber.[/caption]
Sayangnya, John harus kembali ke perkebunan. Dia tidak punya cuti selain hari besar ini.