Kolom Edi Sembiring: Nasionalisme — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Edi Sembiring: Nasionalisme

Kolom Edi Sembiring: Nasionalisme

Tadi baru baca majalah tahun 1930 dimana terjadi perdebatan antara Majalah Pandji Karo dengan Majalah Merga Si Lima (keduanya majalah Suku Karo, Sumatera Utara). Panji Karo itu didirikan G. Keliat (seorang Karo), sedangkan Majalah Merga Si Lima didirikan oleh missionaris asal Belanda, J.H. Neumann. Merga Si Lima adalah nama lain dari Suku Karo yang membatasi suku ini hanya melibatkan 5 merga (Ginting, Karo-karo, Perangin-angin, Sembiring, Tarigan).

Polemiknya soal adat dan agama. Saya pikir, memang masa itu, ini jadi persoalan besar; bagaimana menjaga posisi kalimboeboe (pihak pemberi dara yang disebut Tuhan Yang Terlihat) atau bagaimana menempatkan pengertian Tuhan dalam agama dari luar Karo di dalam adat Karo.

Pastinya lebih menguras pikiran dari pada kemauan untuk menolak disebut Batak. Padahal kita memang jelas-jelas bukan Batak.

Lalu, ada juga di tahun itu Majalah Bintang Karo. Ini majalah paling cerewet. Ketika koran yang lain mulai diam atas kejamnya petinggi perkebunan yang berkebangsaan Eropah, ini koran masih mengkritik. Pemiliknya Merga Perangin-angin Singarimbun. Pemilik modal dari Tiga Nderket dan 2 tokeh Cina. Merga Singarimbun ini masih keluarga dekat Alm Prof. Dr. Masri Singarimbun, sang pendiri Lembaga Kependudukan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Bangunan pertemuan para pemuda Karo di Lapngan Merdeka, Medan, pada tahun 1930an. Bangunan ini menunjukkan ciri khas arsitektur tradiional Karo.[/caption]

Mereka kecam bangsawan Melayu yang menari dansa dari Negeri Barat. Mereka punya mimpi spanduk Bintang Karo ada dibawa oleh semangat Jong Sumatranen Bond. Mereka punya rubrik humor "Ola Tawa" (Jangan Tertawa).

Saya akhirnya berpikir, kehebatan mereka jauh di atas rata-rata kita. Bagaimana mereka berpikir keras di jamannya dengan kesadaran nasionalisme tapi tetap mempertahankan tradisi suku. Itu di tahun 1930an.

Sementara kita sekarang ini, Tahun 2018, kebanyakan puas mengikuti arus banyolan Stand Up Comedy Politikus Sontoloyo.