Kolom Eko Kuntadhi: Indonesia Untung
"Anda kan lagi di Bali. Ikut cawe-cawe di acara itu. Makanya saya tanyain."
Nah, berkenaan dengan acara tersebut Bali perlu berbenah. Misalnya apron Bandara Ngurah Rai perlu ditambah. Ada juga pembangunan infrastruktur lainnya. Jumlahnya mencapai Rp 5 triliunan.
"Jadi, yang dipakai buat acara Rp 810 miliar itu? Besar juga, ya?"
Dibanding negara lain, kita paling hemat. Padahal dari sisi peserta jumlah yang hadir di sini paling banyak. Ada 20 kepala negara bakal hadir. Ada 400 menteri dan Gubernur bank sentral seluruh dunia juga hadir. Total peserta mencapai 34 ribu orang.
Kalau modal Rp 600 milyar terus dapat pendapatan Rp 1,5 triliun. Itu artinya untung apa rugi?
"Maksudnya, untung gimana?" kata teman tadi penasaran.
Baru saja mau menjawab, 3 orang turis lewat di depan saya. Semuanya pakai bikini, berjalan sambil tertawa-tawa lepas. Saya asyik memandangi tatoo bergambar bunga mawar dililit kelabang di punggung salah seorang dari mereka. Kayaknya mereka turis asal Jepang. Tatoo itu terlihat kontras di dasar kulit putih seperti lobak. Shit! Konsentrasi saya jadi buyar.
Wow, banyak lagi. Dari berbagai kerjasama yang disepakati pada event itu saja BUMN kita berhasil menarik investor asing untuk ditanamkan langsung sampai Rp 200 triliun. Bayangkan, Rp 200 triliun! Uang segitu akan berputar dalam perekonomian kita. Keren, kan?
"Jadi acara itu bukan buat nambah utang, ya mas?"
Oh, gak dong. IMF mengutangi negara kalau negara itu krisis. Kalau ekonominya kacau. Lha, kata Direktur IMF Christine Lagarde, Indonesia itu gak butuh bantuan IMF. Karena ekonominya sudah dijalankan dengan baik. Pertumbuhan ekonomi juga stabil.
"Mas, lagi di Bali, ya? Mata dijaga mas. Jangan sembarangan melotot."
Semangat saya langsung drop. Untung saja ada pemandangan lain.