Beranda / Kolom Eko Kuntadhi: Ngapain Mengganti Raisa Dengan Lucinta Kolom Eko Kuntadhi: Ngapain Mengganti Raisa Dengan Lucinta Berita terkini Hukum Kasus rizieq shihab Kolom Nasional · 17 Juni 2018 Bahwa kita kecewa dengan keluarnya SP3 untuk Rizieq, memang iya. Kita semua meraba-raba apa latar belakangnya. Apakah murni pertimbangan hukum atau bukan, biarkan saja tukang besi tua yang menimbangnya. Kamu jangan ikut menimbang juga, apalagi sehabis lebaran begini. Bisa stroke nanti. Itu stok celana dalam sudah gak muat lagi. Terus, ketika sebagian kita mengungkapkan kekecewaan, itu biasa. Rasa kecewa, sejatinya sama seperti perasaan cinta, terkadang membutuhkan saluran untuk diungkapkan. Kalau gak ada penyaluran, dikhawatirkan akan membuat sembelit akut. Jadi, ekspresikan saja rasa kecewamu. Anggap itu bagian dari cara kita menyadari bahwa kita adalah Rocker biasa, punya hati, punya jiwa. Jangan samakan dengan pisau belati. Yang tidak boleh itu, ketika kita menimbang badan sehabis lebaran, lalu jarum timbangan menunjukan angka 45 kilo, tetapi jarum itu sudah berputar dua kali. Melihat jarum yang berputar gak karuan, Anda memutuskan bunuh diri. Kecewa saja dengan diet yang gagal, itu gak apa-apa. Kecewa saja dengan jeans yang gak muat lagi. Itu biasa. Gak usahlah sampai bunuh diri. Nah, ketika kita kecewa karena kasus Rizieq mendapat SP3, lalu teriak-teriak ngajak Golput, itu sama kayak kasus di atas. Kekecewaan yang berlebihan membuat Anda memutuskan bunuh diri. Kenapa begitu? Kita tahu, politik bangsa ini belakangan memang jorok. Orang-orang memaki dan memfitnah. Agama dijadikan bahan dagangan. Perpecahan di depan mata. Jika tidak pandai-pandai menangani, bisa jadi alasan konflik horisontal yang berlarut. Ada adagium tentang kekuatan negara dan masyarakat. Jika negara kuat, masyarakatnya kuat, yang terwujud adalah demokrasi yang sehat. Bangsa bergerak ke arah kemajuan. Jika negara kuat, masyarakat lemah ini akan mewujudkan totalitarianisme. Rezim yang mengangkangi kepentingan publik. Jika negara lemah, masyarakat kuat, yang akan muncul adalah anarkisme. Masyarakat melakukan pembangkangan masal. Negeri chaos. Jika negara lemah, masyarakat lemah, ini akan mengundang intervensi asing. Ingat, dunia ini selalu berlaga bermacam kepentingan untuk merampok siapa saja yang lemah. Kalau posisi kita seperti itu, ada penguasa di luar sana yang bersorak. Yang siap memangsa sumber daya kita. Pilihan kita hanya satu, kuatkan negara sambil menguatkan keberadaan civil society . Menguatkan masyarakat dengan cara menumbuhkan terus rasionalitasnya dan memastikan saluran aspirasinya tidak terhambat. Menguatkan negara dengan cara proses dukungan pada kekuasaan selama dijalankan dengan sehat. Kekecewaan-kekecewaan kecil pada praktek hukum dan bernegara, tidak lantas membuat kita mengambil sikap ekstrim vis a vis dengan pemerintah. Toh, di samping kekecewaan itu, lebih banyak keberhasilan yang ditunjukan pemerintahan Jokowi. Kalau kita telaah, Jokowi menghela perjalanan bangsa ini seperti sedang meniti di ombak yang menggulung. Dia menghadapi mafia serakah di dalam negeri yang sudah lama menghisap kekayaan bangsa. Mafia minyak diobrak-abrik, mafia ikan yang mencuri harta laut kita diperangi, mafia pangan yang selalu memainkan harga sembako dihadapi. Iklan