Beranda / Kolom Eko Kuntadhi: Paskah Di Kolom Eko Kuntadhi: Paskah Di Acara Gereja Kolom · 25 Maret 2018 Perayaan Paskah di Monas menjadi debat yang seru. Ada yang tidak setuju, ada juga yang sangat antusias. Bahkan ada anak pendeta yang sering turun naik ke surga, menuduh mereka yang tidak sepakat perayaan Paskah di Monas sebagai anti Pancasila. Anti kebhinekaan. Dia meyakini, penolakan acara paskah di Monas semata karena reaksi politik karena kekalaham Ahok di Pilkada Jakarta. Dia mendukung rencana peringatan Paskah yang intinya sebagai perjuangan dan pengorbanan Al Masih untuk keadilan bagi umat manusia, digelar di Monas. Terang-terangan dia bilang, suka melihat kebaktian di Monas. Suka dengan rencana Pendeta Gilbert Lumoindong menggembalakan dombanya di lapangan Monas. Saya tidak bermaksud menilai soal makna paskah di Monas. Itu urusan rekan-rekan yang beragama kristen. Tapi ada satu hal yang selalu saya ingatkan. Tidak dapat dipungkiri kemenangan Anies-Sandi disebabkan karena masifnya kampanye dengan jargon 'haram memilih pemimpin kafir'. Ini adalah persekusi politik paling sadis yang terjadi di Indonesia. Padahal Pancasila dan UUD kita membuka kesempatan politik kepada semua warga negara tidak peduli agama dan rasnya. Jargon itu sejatinya bukan hanya ditujukan buat Ahok yang beragama Nasrani. Juga ditujukan kepada semua pemeluk Nasrani di Indonesia. Juga pemeluk agama lain selain Muslim Jargon seperti itu, yang diteriakkan dengan lantang, akan berimbas kepada sikap sebagian rakyat Indonesia yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim. Sementara kita tahu, demokrasi di Indonesia menggunakan sistem pemilihan langsung. Iklan