Beranda / Kolom Eko Kuntadhi: Pilih Temanmu, Awasi Kolom Eko Kuntadhi: Pilih Temanmu, Awasi Hukum · 14 Mei 2018 Puluhan orang mati mengenaskan di Depok, Surabaya dan Sidoarjo. Para simpatisan ISIS menjagal dan meledakkan bom untuk membunuhi orang tidak bersalah. Mereka meyakini, ladang jihad harus diciptakan. Bagi mereka, jihad hanya punya satu arti: Jerit tangis, darah yang muncrat, kematian, dan perang. Jihad mereka adalah kengerian kita. Jihad mereka adalah duka kita. Untuk terbentuknya ladang jihad, mereka wajib punya musuh. Al Qaedah memusuhi segala sesuatu dari Barat. Target serangannya segala sesuatu yang bersentuhan dengan AS atau Eropa. Begitupun mengikut Alqaedah Indonesia, selalu mensasar target orang-orang bule. Lihat saja aksi mereka: Bom Bali I dan II. Bom Mariot, Kedutaan Australia dan sebagainya. Semuanya mensasar warga asing. Alqaedah dibentuk pasca perang Afganistan. Kini pamor Alqaedah agak surut. Perannya digantikan ISIS yang dibentuk setelah berdesirnya Arab spring. ISIS jauh lebih gila dibanding Alqaedah. Jika Alqaedah memusuhi kepentingan Barat, ISIS justru memusuhi siapa saja. Doktrinnya semua yang tidak berhukum dengan hukum Allah dianggap sesat dan musuh. Hukum Allah yang dimaksud tentu saja sesuai dengan pemahamannya sendiri. Jadi, siapapun Anda, apapun agama Anda, jika tidak masuk dalam kelompoknya dianggap musuh oleh ISIS. Di Indonesia, JAD yang menjadi otak serangan beruntun kemarin telah menyatakan diri berbaiat dengan ISIS. Melihat pola serangannya, ini adalah jenis penyakit gila agama level 9, yang suka main gorok, menyerang siapa saja, membunuhi siapa saja. Makanya pola serangan berubah. Jika Alqaedah mensasar warga bule dan kepentingan barat, sasaran ISIS lebih beragam. Ada gereja, polisi, atau rakyat biasa. Bagi ISIS musuh utamanya adalah mereka yang berbeda agama. Kemudian polisi yang dituding sebagai pengawal toghut. Mereka yang seagama tapi tidak mau ikut menentang yang mereka tentang juga dianggap musuh. Bagi teroris semua halal darahnya Jika para barbar itu beraksi, kita semua adalah calon korban. Orangtua kita calon korban. Anak-anak dan saudara kita calon korban. Teman-teman kita adalah calon korban. Tetangga dan rekan kantor kita, semua calon korban. Sebab, ketika melaksanakan aksinya binatang buas itu tidak memilih sasaran. Lantas, siapa teman mereka? Pertama adalah orang yang masuk dalam kelompoknya. Ada yang ditugaskan menjadi 'pengantin' untuk melaksanakan amaliyah membunuhi orang. Ada yang bertugas koordinasi semua langkah itu. Ada juga yang bertugas di media sosial, menyebarkan informasi palsu dan pembelokkan opini. Lalu ada lagi kelompok yang jikapun tidak termasuk langsung kelompok teroris, adalah orang-orang yang melakukan pembelaan kepada para teroris. Termasuk yang menggoreng isu kejadian barbar itu, untuk mengaburkan persoalan. Ada saja cara kerjanya. Membelokkan kejadian ini ini dengan menimpali isu lain seperti soal Palestina, sehingga seolah-olah aksi teroris ini harus dimaklumi karena Palestina juga dijajah Israel. Atau yang lebih pekok, malah menuding aparat keamanan sebagai penyebabnya. Saya punya banyak bukti screenshot postingan yang dikumpulkan teman-teman kemarin. Intinya mereka seperti bersimpati pada teroris, membelokkan isu menyalahkan pemerintah, malah mengangkat isu Palestina, atau semacam apologia lain yang memuakkan. Teman teroris yang lain adalah para politisi ngehe yang justru membuat statemen dengan tujuan membelokkan rasa duka publik ke isu yang lebih politis seperti ganti presiden atau masalah Ahok. Atau mereka yang tidak bereaksi apa-apa, tetapi diam-diam menikmati berita pemboman di berbagai gereja. Sesungguhnya dalam diri mereka bersemayam monster yang tinggal menunggu waktu untuk mewujud dalam tindakan. Iklan