Kolom Eko Kuntadhi: Tumbangnya Sebatang Pohon
"Meskipun aku membangun sarang di kubah masjid?"
"Iya, kalaupun kamu membangun sarang di kubah masjid. Kodratmu tetap burung gereja."
"Kamu fikir dengan dia ikhlas menjaga pelataran masjid, dia bukan pohon mualaf?"
"Tapi orang tetap mengenalnya sebagai pohon Natal. Pohon Kristen," sanggahnya.
"Mungkin karena kelapa identik dengan Pramuka. Bukan dengan agama."
"Pramuka yang beragama hindu,."
"Apa pentingnya kamu menyibukkan apa agamamu?"
"Aku bingung. Apakah tidak berdosa burung gereja yang membuat sarang di masjid?"
"Dosa dan pahala urusan Tuhan. Kita hanya jalani saja."
"Meskipun sebagai burung gereja aku bersarang di masjid?"
"Temanku membuat sarang di rumah bordil," kisahnya.
"Jadi aku tetap burung gereja?"
"Ini maksudnya saya tidak boleh meniru Felix Siauw atau Irene Handono?"
Burung gereja galau itu kini lebih tenang hatinya. Sebuah obrolan telah membuka wawasannya.
"Tapi mas," dia masih penasaran. "Apakah nanti di Aceh itu semua pohon Cemara akan ditebang?"