Beranda / Kolom Ganggas Yusmoro: Nasib Puisi Chairil Anwar Di Jaman Kolom Ganggas Yusmoro: Nasib Puisi Chairil Anwar Di Jaman Berita terkini Budaya Kolom · 11 April 2018 Beruntung, sangat beruntung seorang Chairil Anwar hidup di masa lalu. Coba kalau hidup di masa kini, di Jaman Now, di jaman para otak cingkrang dan sumbu pendek merajalela di tengah jalan bersama mobil komando dengan jejeran TOA di kanan kiri. Bersyukur, sangat bersyukur puisi-puisi sang Maestro Pujangga negeri ini hidup ketika negeri ini masih banyak yang waras. Masih bisa membedakan antara bahasa yang tersirat dan tersurat. Masih bisa memahami bait-bait yang diungkapkan dari untaian kata dengan olah rasa. Dengan hati yang bijak. Coba kalau puisi tersebut muncul di zaman manusia-manusia yang pikirannya bercampur dengan sampah, maka bisa jadi seorang Chairil Anwar akan didemo berhari-hari. Istilah sekarang bersilit silit. Bayangkan, ketika Chairil Anwar mengatakan "Biar Peluru Menembus Kulitku, AkuTetap Meradang Menerjang." Apa yang terjadi? Manusia-manusia sontoloyo yang berkostum gamis akan membully habis-habisan. "Wooiii !!!! Itu takabur, tidak ada orang sakti. Itu melecehkan Tuhan, itu sangat menyimpang dari ajaran agama." Iklan