Beranda / Kolom Ganggas Yusmoro: Teka-teki Politik Kolom Ganggas Yusmoro: Teka-teki Politik Kolom Nasional · 6 Mei 2018 Perjalanan dari langkah pasti seorang Jokowi untuk mengemban amanah sebagai RI 1 bukan seperti berjalan di jalan tol. Bahkan, semua juga tahu, untuk memindahkan Pedagang Kaki Lima (PKL )sewaktu beliau masih menjadi Walikota Solo saja, beliau harus melakukan pertemuan yang berkali-kali. Bahkan konon puluhan kali agar semua bisa berjalan dengan baik tanpa harus menimbulkan gesekan. Bukan itu saja. Saat Pilpres 2014, bagaimana pihak sebelah menggembosi suara Jokowi dengan berbagai cara. Tabloid Obor rakyat dan media abal-abal secara masif, sistimatis dan terukur selalu dan selalu membombardir dengan fitnah. Mulai soal keturunan, soal PKI, soal sebagai boneka hingga dianggap planga plongo. Pada titik situasi yang genting tersebut, ketika suara Jokowi hampir rontok dihembus oleh badai fitnah, relawan yang terdiri dari para artis hingga rakyat biasa akhirnya membuat gawe di Istora senayan yang dihadiri oleh ratusan ribu Jokower. Jiwa Jokowi bukan mental krupuk. Beliau tahu bahwa KMP menguasai lembaga legislatif. Bahkan siapapun mendengar jika target KMP akan melengserkan Jokowi dalam 2 tahun. Ketika Kasus Ahok, yang semuanya juga pada ngerti, bahwa kasus Ahok hanyalah antara. Sasaran tembak sebenarnya adalah Jokowi. Saat situasi genting di 212, ketika Jokowi memutuskan hadir di tengah lautan manusia, orang-orang dekat Jokowi terkejut alang kepalang. Bahkan kita semua sudah membaca, Paspampres berusaha mencegah. Berusaha agar Presiden tidak usah datang di tengah-tengah massa yang tentu saja beresiko. Resiko yang bukan enteng. Apakah Jokowi lalu lumer dengan saran Paspampres? Tidak! Nyali beliau bukan seperti sosok lahiriahnya. Meski hujan, diiringi helaan napas tegang pemirsa televisi di seluruh Indonesia bahkan dunia, semua menahan napas dengan keluarnya Jokowi dari dalam Istana. Iklan