Kolom Ita Apulina Tarigan: Edisi Terakhir Tabloid
Dengan alasan nyaris sama, biaya operasional sudah terlalu besar. Kita sudah tidak kuat lagi. Semalaman saya menangis ketika memutuskan dan meminta agar edisi cetak dihentikan. Seperti HAI dan Bola, Tabloid SORA SIRULO edisi cetak dibunuh oleh induknya (I am crying while writing this). Saat mengerjakan Tabloid SORA SIRULO di dapur redaksi (Medan). Paling kiri Pemimpin Umum (Juara R. Ginting). Di sebelahnya designer (Vinsen Sitepu) dan 2 perempuan berdiri adalah staf redaksi. Foto diambil oleh Pemimpin Redaksi (Ita Apulina Tarigan)[/caption]
Sejak itu pula, saya kembali bekerja hingga kini, menjadi professional yang jauh dari tulis menulis. Selama 2 tahun pertama sebagian gaji saya untuk menyicil utang ke percetakan Gramedia. Seorang stafnya berbaik hati selalu melunasi biaya cetak Tabloid SORA SIRULO. 2 tahun saya cicil kepadanya. Terimakasih buat Andi dan istri, sabar menunggu cicilan saya. Salah satu halaman Tabloid SORA SIRULO cetak[/caption]
Semoga hasil kerja yang sudah kita bunuh mau memaafkan kita.