Kolom Joni H. Tarigan: 2019 Kami Semakin — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Joni H. Tarigan: 2019 Kami Semakin

Berita terkini ·
Kolom Joni H. Tarigan: 2019 Kami Semakin

Tidak ada data sejarah yang memaparkan perbandingan tingkat kebahagiaan manusia sejak zaman purba sampai zaman modern saat ini. Pernyataan ini dituliskan oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul HOMO SAPIENS. Dalam buku tersebut dituliskan juga, ada satu lubang yang belum mampu diisi oleh sejarah. Itulah tentang perubahan kebahagian umat manusia dari zaman ke zaman.

Berkaitan dengan kebahagiaan, Kompas.com mempublikasikan hasi penelitian dari Gallup. Dalam 10 tahun terahir level kebahagiaan manusia telah menurun.

Mengetahui fakta yang diungkap oleh Gallup ini, kembali saya mengulang apa yang dituliskan dalam buku Homo Sapiens. Yuval menuliskan: “Jika kita manusia tidak semakin bahagia, untuk apa semua kemajuan ini?”

Mungkin kebanyakan kita belum pernah terpikir bagaimana hubungan kebahagiaan dengan segala kemajuan yang ada. Apakah semakin maju zaman, manusia semakin bahagia? Apakah semakin banyak harta benda yang kita miliki, kita semakin bahagia? Data Gallup dengan jelas mengatakan manusia dalam 10 tahun terahir semakin stress. Ini artinya kemajuan zaman tidak membawa kebahagiaan.

Bagaimana dengan kekayaan dan kemiskinan? Teman saya pernah bercerita bahwa bapak pengemudi becak di Yogyakarta duduk dengan santai menghirup nafas teratur, dan senyum bahagia, sambil menunggu penumpang. Teman saya ini berkesempatan bertanya: “Pak, bapak kok kelihatan menikmati sekali kehidupan ini?"

Sang pengemudi becak berkata, kebahagiaan dalam hidupnya adalah dapat menghidupi keluarganya dan berkumpul bersama mereka. Ia tidak membayangkan memiliki harta yang melimpah. Kemiskinan dan kekayaan ternyata tidak berhubungan dengan kebahagiaan.

Saya sendiri berkesimpulan, kebahagiaan bukanlah apa yang kita miliki, atau apa yang kita lihat. Kebahagiaan adalah keputusan pikiran kita untuk bahagia dalam kondisi apapun yang kita miliki. Dengan kata lain, sumbernya adalah bagaimana pola pikir kita menanggapi semua keadaan di sekeliling kita. Mahatma Gandhi juga berkesimpulan bahwa penyakit terbesar kita adalah sakit di pikiran. Dokter sekalipun tidak punya resep untuk pengobatan yang sakit sejak dalam proses berpikir.

Mungkin saja Mahatma Gandhi, yang merupakan lulusan hukum di University College London, benar bahwa sulit mengobati seseorang yang mungkin sudah sakit cara berpikirnya. Akan tetapi, saya punya keyakinan bahwa kita masih punya cahaya terang untuk mengindari penyakit akut ini. Kita punya kesempatan untuk tidak memberi kesempatan penyakit itu tumbuh dan berkembang. Kesempatan itu adalah pendidikan usia dini.

Saya meyakini setiap anak terlahir bahagia. Ia tidak mengenal kata sedih dan menyerah. Lihatlah proses perkembangan seorang anak sejak dalam kandungan hingga ia lahir, merangkak, berdiri dan berlari. Apakah anda pernah melihat berapa kali anak anda harus terjerembab saat mencoba merangkak? Apakah anda pernah melihat anak anda tertatih-tatih mencoba berdiri kemudian jatuh, jatuh, jatuh, dan jatuh lagi?

Berkali-kali anak itu jatuh, apakah ia berhenti mencoba lagi? Pengamatan saya terhadap anak saya, ia tetap mecobanya. Ketika ia belajar berlari, ia juga beberapakali berlumur darah, tetapi tetap saja ia mencobanya sampai ia berlari kencang. Sebagai seorang ayah atau ibu, apakah anda melihat proses itu semua? Atau malah anda sibuk berteriak 2019 ganti presiden atau tidak?

Apakah kita menyadari bahwa kebahagiaanlah yang membuat kita melakukan lagi hal-hal yang sulit sekalipun? Atau jangan-jangan kita suah lupa bahagia karena terlalu sibuk memperjuankan 2019 ganti presiden atau tidak?

Semua anak terlahir bahagia dan penuh semangat menjalani serta memahami kehidupan ini. Usia anak kami sudah memasuki tahun ke enam, dan sudah tahun ke tiga mengikuti pendidikan di usianya yang dini. Semakin hari saya melihat ia bertumbuh dengan kebahagiaan yang terus bertambah.

Kami sebagai orangtuanya juga semakin bahagia, karena alih-alih ingin mendidik anak kami ternyata dalam waktu bersamaan membuat kami mengenal diri kami sendiri. Pengenalan siapa diri kami sebenarnya, serta mengenal siapa anak kami sesungguhnya, merupakan gerbang kebahagiaan kami sebagai keluarga dan bagian dari umat manusia. Mustahil mencintai orang lain ketika kita tidak mengenal siapa diri kita yang sebenarnya.

Kenalilah diri anda, kenalilah orang-orang terdekat anda. Anda akan menemukan kebahagiaan itu. Hati-hati, terlalu sibuk dengan PILPRES 2019, anda malah lupa mengenal diri sendiri, anak, istri, suami, dan kerabat-kerabat anda. Saya sendiri melihat bahwa 2019 KAMI PASTI SEMAKIN BAHAGIA. Siapapun presidennya.