Kolom Joni H. Tarigan: Filosopi Kopi Dan Kartu Kuning
Trending pembicaraan kopi di tingkat Nasional sepertinya semakin meningkat. Banyaknya acara festival kopi, baik tingkat daerah maupun tingkat nasional dapat dijadikan sebagai bukti. Di situs International Coffee Organization , pasar konsumen kopi juga semakin berkembang. Tidak hanya di Eropa dan Amerika, tetapi pertumbuhannya juga sedang terjadi di Asia.
Kebiasaan saya kali ini terulang lagi, bukan menikmati kopi tentunya. Saya termenung, berjalan-jalan dalam alam pikiran. Saya melihat folosofi kopi ini memang pantas disematkan filosopi. Ia memiliki makna di balik nama kopi itu. Saya melihat filosofi kopi ini kedalam suatu proses menjadikan insan yang memiliki kualitas yang spesial. Menjadikan insan yang hidup dengan kesadaran bahwa ia adalah anugerah untuk menggandakan dan membagi anugerah itu. Proses itu, bagi saya, adalah PENDIDIKAN.
Atau, apakah ini merupakan sebuah design membungkam mahasiswa?
Maria Montessori memandang bahwa setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk cerdas. Ia tidak tergantung dimana dan dari keturunan mana ia dilahirkan. Setiap anak juga terlahir merupakan sosok pejuang dan pembelajar. Seroang anak itu tidak cerdas atau tidak maksimal dengan anugerah yang ia miliki adalah karena talenta yang mati oleh orang dewasa. Matinya talenta itu karena orang dewasa mengekang kebebasan seorang anak untuk memahami kehidupan dan dunia ini. Mahasiswa sedang melakukan penelitian lapangan.[/caption]