Kolom Joni H. Tarigan: Kekuatan Teladan – Jokowidodo Dan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Joni H. Tarigan: Kekuatan Teladan – Jokowidodo Dan

Kolom Joni H. Tarigan: Kekuatan Teladan – Jokowidodo Dan

Hidup di zaman sekarang rasanya informasi itu sangat mudah. Jika dibandingkan dengan aliran air, mungkin arus informasi tu seperti deguran air terjun Sipiso-piso. Begitu derasnya air itu, demikian informasi saat ini begitu deras. Di sekitar Sipiso-piso selain hutan, terlihat tembok alam, batu cadas yang tinggi dan kokoh. Pantas saja, air terjun itu terus menderu, karena ditopang batu cadas. Saya membayangkan, seandainya di sekitar air terjun ini hanyalah tanah liat, maka hari ini kita tidak akan menikmati desiran dan deburan air terjun Sipiso-piso.

Saya ingin mengatakan, arus informasi yang deras ini harus juga kita imbangi dengan kekuatan untuk mengolahnya sehingga menjadi kenikmatan hidup yang mulia untuk saling memuliakan bumi beserta isinya.

Salah satu aliran deras informasi yang saya amati adalah melalui Facebook. Perancang media ini selalu memperbaharui, sehingga bukan pemilik Facebook yang menyajikan berita, akan tetapi setiap penggunalah yang menjadi sumber informasi. Ah jadi ingat kata kawan, “jika aplikasi itu gratis, maka sebenarnya andalah yang dibeli”.

Beberapa hari lalu, saya membaca komentar Curhat teman di FB. Teman itu menceritakan, saat mencari bakal kain untuk dijadikan pakaian, ia menjumpai beberapa tipe penjual bakal kain. Yang pertama adalah sosok tua yang dengan tulus melayani. Pak tua pedagang itu menceritakan seluk beluk semua produk yang ia punya, dan tentu saja semua itu berkaitan dengan harga.

Teman saya ini sangat menghargai ketulusan pak tua yang menjual dengan jujur. Kemudian teman saya ini juga menceritakan pedagang yang lain, yang begitu menggebu-gebu mengatakan keunggulan bakal yang ia miliki. Untuk menunjukkan produk yang ia miliki lebih unggul, ia pun menambah bumbu bahwa produk orang lain yang jelek-jelek.

Dari dua penjual ini, anda bisa tebak ke pedagang yang mana teman saya beli bakal kain?

“Seandainya ia tidak menjelek-jelekkan orang lain, mungkin saya akan beli bakal kain dari dia,” tulis teman saya.

Ia akhirnya membeli dari Pak Tua yang jujur memberikan penjelasan produk dagangannya. Silahkan periksa jawaban spontan anda dan selamat merenungkan jawaban itu.

Saya sudah lama ingin membuat tulisan ini, yakni tentang seberapa banyak kemungkinan orang lain setuju dengan pemikiran yang kita miliki, jika kita melakukannya dengan menuduh, mencaci maki, mencerca, menjelek-jelekkan orang lain. Curhatan teman saya ini menjadi contoh yang sangat nyata dan saya kira ada baiknya saya paparkan.

Seringkali kita memiliki pemahaman atau pilihan, dan kita ingin orang lain pada posisi yang sama. Kepada orang yang tidak pada posisi yang sama, kita berusaha meyakinkan orang lain. Pada tahap meyakinkan orang lain inilah ada dua cara meyakinkan orang lain. Satu dengan menunjukkan kondisi-kondisi sebenarnya secara jujur, tanpa menuduh keburukan orang lain. Satu lagi berusaha menunjukkan kejelekan orang lain, agar setuju denga pemikirannya.

Dari curhatan teman saya ini, kita tentu tau bahwa pilihan orang akan jatuh kepada orang yang berperilaku jujur dan menghargai orang lain.

Saya pun mencoba menarik perilaku meyakinkan orang lain ini ke ranah PILKADA yang baru saja usai, dan mungkin menjadi permenungan bagi semua orang yang menginginkan pilihannya yang menang. Saya sendiri tentu punya pilihan dan berusaha meyakinkan orang lain agar melihat sisi kebaikan yang mampu saya lihat.

Di Sumatera Uatara, saya pribadai mendukung Djarot-Sihar. Sebelum pemilihan saya membuat tulisan dengan judul “Strategi Pembangunan Ekonomi SUMUT”. Dalam tulisan itu, saya mengapresiasi rencana program pembangunan ekonomi SUMUT yang diusung oleh DJOSS, yang akan membuat setiap wilayah berkembang pada potensi masing-masing.

Karo dan Dairi, misalnya, fokus untuk pertanian, sedangkan Pariwisata dikembangkan di Nias dan Toba. Seperti Pablo Picasso yang menyatakan “Setiap anak adalah seniman”, maka DJOSS memiliki pemikiran “setiap wilayah punya potensi eknomi yang berbeda”. Saya tidak mencoba memperjelas keburukan pasangan EDY. Selain saya tidak tahu kejelekannya, menunjukkan kelemahan orang lain tidak akan membuat kita dan pilihan kita menjadi lebih bermartabat.

Di Jawa Barat, pilihan saya jatuh kepada Ridwan Kamil. Mengenai pilihan ini, jangankan orang lain, dengan istri saya sendiri saya berbeda pandangan. Untuk meyakinkan orang lain, tentang kebaikan yang saya lihat pada Ridwan Kamil, saya membuat tulisan Insinyur Jawa Barat. Saya mengulas bagaimana tiga kepemimpinan insinyur dalam tahapan transisi kritis Indonesia. Ketiga insinyur itu adalah Soekarno, Habibie, dan Jokowidodo. Penilaian pribada saya, bahwa karakter insinyur itu membantu seorang pemimpin mengambil keputusan yang tepat dalam kondisi sulit. Tepat kadangkala sangat bertentangan dengan keinginan rakyat yang menginginkan solusi yang komopleks dapat teratasi secepat menyeduh mie instan.

Keyakinan yang mereka miliki, sebagai seorang insinyur, bersumber pada perhitungan dan pengalaman. Kadang pengalaman tidak bisa dihitung, tapi harus diperhitungkan. Sesuatu yang belum terjadi harus dihitung, supaya tidak menjadi pengalaman yang buruk. Memperitmbankan kondisi yang sudah terjadi, serta memperhitungkan kondisi yang akan terjadi, perilaku ini melekat pada insinyur. Melihat latar belakang Ridwan Kamil adalah arsitektur, yang juga adalah insinyur, maka saya berusaha meyakinkan orang lain tentang sisi baik RK lewat tulisan Insinyur Jawa Barat. Lagi, saya tidak membahas keburukan orang lain, karena keburukan saya mungkin jauh lebih banyak.