Kolom Lyana Lukito: Kami Tionghoa Cinta Dan Berbakti Ke — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Lyana Lukito: Kami Tionghoa Cinta Dan Berbakti Ke

Kolom Lyana Lukito: Kami Tionghoa Cinta Dan Berbakti Ke

Saya paling kesal kalau ada orang yang mengindentikkan kaum Tionghoa (minoritas) dengan kekayaan, harta, borjuis, matre dan hidup yang eksklusif. Saya lahir dari keluarga sederhana Tionghoa dan sejak lahir yang saya tahu, Tanah Air saya hanya Indonesia. Bahasa yang saya bisa hanya Bahasa Indonesia dan saya Bangsa Indonesia.

Walaupun sejak sekolah SD saya selalu diledekin "Cina gong Cina gong Cina makan bagong" sambil sesekali dilempari batu kerikil oleh anak-anak.

Tetapi saya tidak marah. Saya sadar kulitku lebih terang. Mataku lebih kecil. Kita memang berbeda secara fisik, tetapi kehidupan kita sama. Sejak lahir hidup dalam kesederhanaan kesusahan. Makan seadanya. Bahkan sering hanya dengan kecap. Paling mewah telor ceplok.

Pernah suatu hari saya ditertawakan didepan satu kelas karena tertinggal sebutir nasi dengan kecap di mulut saya. Mereka menertawakan saya karena makan hanya dengan kecap. It's OK, Thats real.

Baju baru saya dapat hanya satu tahun sekali pas Imlek. Itupun dibelikan di pasar yang murah. Selebihnya semua baju saya adalah baju bekas hibahan dari orang lain. Dan, saya bersukacita sekali karena model baju-bajunya bagus-bagus.

Sekolah pun dari SD hingga SMA setiap hari saya harus berjalan kaki jauh sekali. Bayangkan betapa anak sekecil saya setiap hari berjalan jauh sambil berdoa agar tidak bertemu orang-orang yang berniat jahat karena saya anak perempuan dan masih kecil. Uang jajan saya tidak cukup untuk membeli sekedar segelas air minum. Saya harus bersyukur karena sejak kecil papa saya sudah tiada. Masuk sekolah pun karna belas kasihan Wakil Kepala Sekolah dengan modal surat keterangan tidak mampu. Saya diberikan uang sekolah paling murah dari seluruh siswa hingga lulus SMEA (Saya pilih SMEA biar bisa cepat kerja).