Kolom M.u. Ginting: Marx And Lenin
Masyarakat sama rata, tidak ada lagi penghisapan, tidak ada kaya miskin dsb dst.
Kebesaran dan kejayaan Partai Komunis Indonesia mencapai puncaknya 1965, dengan berhasilnya penerapan NASAKOM dan berhasilnya Soekarno di'jinakkan' oleh orang-orang komunis. Partai-partai lain sangat iri melihat perkembangan gemilang partai komunis ini, serta keberhasilannya dalam mendominasi perpolitikan nasional Indonesia.
Kontradiksi, diskusi dan debat ilmiah, akan selalu mendorong, atau mempercepat penemuan pemikiran/ kesimpulan baru yang tadinya atau sebelumnya tidak dimengerti. Contohnya, diskusi dan debat soal 'indonesia bubar 2030' telah menghasilkan informasi dan pengetahuan yang lebih luas dan mendalam soal ramalan yang seyogianya tidak terlalu berharga itu, karena hanya fiksi dari seorang pengarang fiksi.
Kita kembali ke tema komunisme. Untuk apa komunisme diciptakan di dunia?
"Marxism...the demagogic popular one" that is used to dupe the intellectuals and the masses" (Lihat di SINI ).
Teori diktator proletar Marx itulah yang kemudian masuk ke Indonesia dipakai oleh Semaun, Muso dan Aidit. Tetapi apakah PKI, Aidit, Muso dll itu sedar juga untuk melaksanakan rencana NWO itu? Saya masih ragu. Juga masih diragukan apakah orang-orang ini (pemimpin-pemimpin komunis negeri berkembang) sudah mengerti ketika itu, karena begitu ketatnya rencana NWO itu dirahasiakan, rahasia mana baru terbuka jelas sekarang di Abad 21.
Inilah alat divide and conquer Abad 21 pengganti alat komunisme. Penciptanya sama dengan pencipta komunisme, tetapi bukan Marx lagi he he . . . Ini lebih modern karena diciptakan sesuai dengan keadaan konkret tiap negeri, terutama di negeri-negeri beragama islam. Di Eropah masih lebih banyak dengan cara mempertahankan partai-partai lama walaupun bertendensi jelas semakin bangkrut seperti partai-partai sosialis, partai buruh, sosial demokrat, maupun partai komunis sendiri. Sebaliknya, partai-partai nasionalis (populis) semakin memuncak.
Seorang anti-komunis yang pandai (M C Fagan) mencatat pada tahun 60-an:
Fervent anti-Communist and noted New York-Hollywood writer, director and producer Cecil Fagan in the late 1960's recorded The Illuminati and the Council on Foreign Relations:
Bahwa intelektualis Marx ternyata dimanfaatkan oleh bankir rentenir internasional untuk mengarang teori 'revolusioner' untuk mengelabui rakyat dunia terutama kaum intelektual dan kaum buruh yang sedang tumbuh pesat membesar ketika itu, tidak banyak yang mengetahui sebelum era keterbukaan internet.
Tetapi, semakin jauh kita membaca dan meneliti apa yang ditulis oleh Marx memang semakin terlihat juga. Dia sepertinya terpaksa untuk menulis begitu, menurut kehendak perencana NWO itu. Salah satu contohnya ialah serangannya yang sangat mencemohkan Hegel pencipta teori dialektika 'tesis-antitesis-syntesis'.
Mengapa Marx berkeras kepala menyangkal teori dialektika Hegel dalam perkembangan kapitalisme? Saya kira jelas karena yang memintakan dia mengarang marxisme, dan yang sekarang disebut neolib/ NWO sangat membutuhkan teori untuk mendirikan diktator proletar. Bukan untuk menganalisa perkembangan baru kapitalisme ke tingkat yang lebih tinggi, walaupun itulah yang sebenarnya terjadi terus menerus sampai sekarang dalam perubahan dan perkembangan kapitalisme lewat berbagai krisisnya.
Jelas sekali memang, teori Hegel yang ilmiah itu sangat tidak sesuai dengan keinginan NWO mendirikan diktator proletar sebagai langkah penting untuk menuju pemerintahan dunia itu. Marx tidak berkutik untuk keluar dari teori krisis kapitalismenya. Sebagai seorang revolusioner, juga mengherankan karena Marx bahkan tidak pernah berani menulis soal penghisapan bank serta peranan bank dan bankir internasional dalam berbagai perang di Eropah.