Kolom M.u. Ginting: Merangkul
Mengapa taktik ini bisa berhasil bagus? Tentu Jokowilah yang lebih tahu dan sudah mendalaminya. Luar biasa memang analisanya soal kontradiksi nasional maupun internasional. Inilah analisa kontradiksi dengan mengikutsertakan ke dalam pertimbangannya semua tradisi serta way of thinking orang-orangnya atau penduduknya.
Radikalisme sebagai pengganti komunisme itu selain arus utamanya memecah belah (divide and conquer) diperkuat juga dengan gerakan lainnya terutama ialah korupsi dan narkoba. Tidak hanya itu, juga dengan gerakan-gerakan lainnya untuk melemahkan kekuatan dan gerakan utama nasionalisme itu; a.l. gerakan LGBT, gerakan kawin-mawin homo, gerakan anti agama dan anti kultural seperti 'famili baru' dimana kedua orangtua dari satu jenis kelamin, dan anak tak berkelamin, gerakan child-sex trafficking, perlontean homo/ boy, pedofil, macam-macam gerakan perubahan sosial dan kultur masyarakat.
Ini termasuk juga dalam gerakan social engineering atau social manipulation .
Tetapi, dalam soal Pilpres kali ini, NWO betul-betul memanfaatkan politik divide and conquer saja: Oposisi + radikalisme KONTRA petahana nasionalis Jokowi sebagai musuh utama. Bagi nasionalis Jokowi, lawan sesungguhnya bukan anak bangsa tetapi kekuatan di luar bangsa sendiri yaitu kekuatan globalis neolib NWO yang mau menguasai dunia dengan tyrani globalnya. Dan menguasai pemerintahan Indonesia terutama tujuan menguasai serta mengeruk kembali SDAnya dan menjadikan Indonesia boneka NWO.