Beranda / Kolom M.u Ginting: Positifnya Gerakan Bukan Kolom M.u Ginting: Positifnya Gerakan Bukan Budaya Kolom · 6 Mei 2018 Seorang teman baik di Kompasiana menyapa saya dengan istilah 'Horas'. Dia tulis begini: "Horass pak Ginting." Saya juga menyambutnya: "Horas juga, Pak Tjip." Saya sangat senang mendengar sapaan ini Pak Tjip. Di samping itu, saya merasa sangat berutang kalau tidak bikin sedikit penjelasan tambahan soal yang bagi saya atau juga mudah-mudahan bagi semua rakyat Bhinneka Tunggal Ika ini juga ikut bergembira dengan penjelasan sederhana. Minta maaf sebelumnya, Pak Tjip. Istilah sapaan 'horas' adalah bahasa Suku Batak, dan suku yang bermarga 'Ginting' seperti saya sendiri adalah dari Suku Karo. Saya tidak mengerti Bahasa Batak tetapi 'Horas' itu sudah terkenal dan sangat indah didengar. Dalam bahasa Karo (Suku Karo) sapaannya 'Mejuah-juah'. Walaupun di Sumut umumnya kita mengerti 'Horas' itu. Sapaan 'Mejuah-juah' jarang didengar, walaupun Suku Karo termasuk pendiri Kota Medan, suku asli di Medan. Tetapi, ini tentu bisa juga diteliti dengan pelajaran tersendiri pula; dari segi Antropoligi, Psikologi dan karakter suku-suku bangsa atau suatu bangsa. Saya jadi teringat pula ketika perkawinan putri Presiden Jokowi dengan seorang pemuda bermarga Nasution dari Mandailing. Kobaran 'Mandailing Bukan Batak' jadi populer pula ketika itu, seperti di You Tube ini: "Raja-raja panusunan Mandailing meluruskan bahwa Mandailing bukan Batak." Iklan