Kolom Muhammad Nurdin: Sebuah Anomali Di Tanah Papua (sirulo — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Muhammad Nurdin: Sebuah Anomali Di Tanah Papua (sirulo

Kolom Muhammad Nurdin: Sebuah Anomali Di Tanah Papua (sirulo

Membaca kesaksian seorang pekerja yang selamat dari eksekusi massal yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB) membuat saya heran, sedih sekaligus geram. 31 pekerja proyek jalan trans-Papua dikumpulkan, disekap selama satu hati, lalu dikumpulkan di sebuah bukit. Disanalah mereka dieksekusi mati berjamaah.Pola eksekusi mati seperti ini mirip dengan yang biasa dilakukan jihadis ISIS di Irak dan Suriah.

Mereka ingin menyampaikan pesan "kesadisan, kebrutalan dan kengerian" kepada publik, meski belum ada video atau foto yang beredar.

Eksekusi ini pasti telah direncanakan secara matang. Kalau kejadian ini spontan dilakukan, untuk apa harus ada penyekapan, dan pemilihan tempat tertentu untuk eksekusi.

Memang, ada saja kabar penyerangan dari kelompok bersenjata di Papua. Yang sekarang terjadi adalah yang paling besar, paling terorganisir, dan memiliki pesan "teror" yang kuat.

Saya tidak tahu kepada siapa pesan ini ditujukan. Yang jelas, ada anomali disini. Di saat pemerintah sedang membangun Papua, memberikan keadilan di Papua, tiba-tiba ada pihak-pihak yang tidak suka dengan dibangunnya Papua.

Sebelum era Presiden Jokowi, Papua dipandang sebelah mata. Kekayaan alam Papua dikuras tanpa ada kompensasi yang sebanding untuk warga Papua.

Tak ada yang murah di Papua, kecuali "sirih-pinang". Jangan tanya berapa harga BBM disana. Jangan tanya juga harga semen. Seorang teman yang bertugas disana mengatakan, lebih baik bangun rumah pakai kayu.

Papua dilirik hanya ketika menjelang Pilpres. Selebihnya, Papua tak lebih dari "lonte", terus ingin menikmatinya, tapi tak mau dinikahin. Nasib, Papua terus merana.

Sampailah saat keberpihakan datang melalui Presiden Jokowi. Sudah tak terhitung ia mengunjungi Papua. Membuka akses jalan yang biasanya hanya dapat ditempuh lewat udara. Memastikan harga BBM sama dengan di Jawa. Dan, merebut kembali Freeport. Kekayaan Papua yang tidak bisa dinikmati oleh rakyat Papua.