Beranda / Kolom Ray Bambino: Quo Vadis Revolusi Kolom Ray Bambino: Quo Vadis Revolusi Berita terkini Kolom Pemilu Politik · 9 September 2018 Pada 2014, Jokowi "berperang" dengan jargon "Indonesia Hebat dengan Revolusi Mental". Tapi, jargon yahud tersebut tidaj dipakai lagi untuk berjuang di 2019, kenapa? Karena rakyat belum siap. Revolusi Mental itu hanya mudah diucapkan, tapi jelas sulit untuk diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari; baik oleh politisi, pengusaha, maupun oleh rakyat. Revolusi Mental imembuang mental terjajah, mental korup, mental serakah, dan mental intoleran serta mental oportunis. Seorang politisi terlalu berat "mengamalkan" ini, dan seorang pengusaha pun akan sangat sulit menerapkannya jika dikaitkan dengan bisnisnya. Seorang pengusaha akan sangat kerepotan jika harus menjalankan bisnisnya sesuai dengan peraturan hukum yang ada dari mulai perizinan, pajak sampai sistem pengupahan terhadap pekerja atau buruhnya. Kesulitan politisi terletak pada dimensi politik kita yang masih "berpedoman" pada "politik dagang sapi". Khusus untuk rakyat kebanyakan, masih bisa dimaklumi jika tidak mau atau tidak mampu menjalankan semangat Revolusi Mental itu. Mereka hanyalah objek penderita dari para pelaku politik dan pelaku bisnis. Keberadaannya menjadi alat kekuasaan yang hanya diperlukan saat-saat tertentu, lalu dibuang setelah sudah tidak diperlukan. Dengan fakta ini, bukan berarti semangat Revolusi Mental yang "dikenalkan" oleh Jokowi harus diberangus, akan tetapi justru harus terus "dipupuk" meskipun "tembok besar" menghadang. Akhirnya, saya hanya dapat berbisik.... Perjuangan kita belum selesai dan semoga anak cucu kita kelak dapat memperjuangkan "Indonesia Hebat dengan Revolusi Mental". #Salam "Berpikir Gila" ☕? Iklan