Pernyataan Sikap Sekaligus Dukungan Terbuka Kepada Sis Grace Natalie
Kepada Yth, Seluruh Rakyat Indonesia di manapun anda berada di atas Planet ini. Pertama-tama, izinkan saya membacakan kalimat pembuka dari UUD 1945 secara lengkap terutama pada alinea pertama. "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan."
Pada point ini jelas bahwa dasar dari berdirinya bangsa ini adalah "Kemerdekaan" dan di dalam alam "Kemerdekaan" tidak diperkenankan penjajahan model apapun dibiarkan berkeliaran di Republik Indonesia, karena jelas melanggar prinsip pertama dan utama dalam Negara Indonesia Merdeka yaitu perikemanusiaan dan perikeadilan.
Oleh sebab itu, maka apa yang disuarakan oleh Ketum PSI Grace Natalie dalam acara Festival 11 pada tanggal 11 di Gedung ICE BSD adalah sebuah ekspresi kebebasan yang dijamin oleh UUD 1945. Dan tidak satupun kekuatan hukum apapun yang bisa mencabut hak kemerdekaan itu kecuali oleh UUD 1945 itu sendiri.
Dan perjuangan Kemerdekaan Indonesia telah sampai pada tahap yang berbahagia, dengan selamat sentosa mengantarkan Rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Kemerdekaan Indonesia yang merdeka bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Pada alinea selanjutnya, ketika kemerdekaan itu sudah ada di tangan seluruh Rakyat Indonesia, itulah yang disebut "moment berbahagia" karena para pejuang bangsa ini telah sukses mengantarkan kemerdekaan itu di depan pintu gerbang rumah-rumah rakyat Indonesia, yang kemudian memegang kedaulatan penuh di atas rasa keadilan dan kemakmuran bersama.
Apa yang disampaikan Grace Natalie pada Perayaan Ulang Tahun PSI yang ke 4 di Gedung ICE BSD adalah ekspresi kebahagiaan seorang anak negeri yang tidak ingin negeri rusak oleh praktek-praktek penjajahan atas nama agama, yang telah melahirkan begitu banyak korban yang tidak bersalah dan korban-korban itu adalah aset berharga yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. https://www.facebook.com/archer.clear/videos/2089649417732382/
Saya sebagai salah satu Kader dan juga Caleg dari PSI tentu saja sepaham dengan pernyataan Sis Grace Natalie yang secara lantang menolak Perda yang berbasis agama. Menurut pendapat saya, peraturan apapun yang tidak berbasis akal sehat dan rasionalitas manusia jelas akan melahirkan yang namanya ketidakadilan bahkan lebih parah akan melahirkan sikap-sikap Intoleran di republik yang berpijak di atas prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab.
Atas berkat rahmat Allah Yang maha Kuasa dan dengan didorong oleh keingan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka Rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Pada alinea ini tegas disebutkan bahwa kemerdekaan yang diraih oleh Bangsa Indonesia telah mendapat berkat atau restu dari Allah dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Siapapun tidak punya kuasa di atas kekuasaan Allah dan Tuhan yang bisa membungkam kebebasan rakyat Indonesia.
Sis Grace Natalie sebagai Ketum PSI jelas ingin menterjemahkan kebebasan yang dimaksud pada alinea ke tiga Pembukaan UUD 45 pada wilayah praksis dan taktis, bahwa kita sama-sama tahu Indonesia bukan negara agama, apalagi satu agama, Indonesia adalah negara plural dan majemuk dimana semua agama dilindungi oleh negara di atas berkat dan rahmat Tuhan, seperti halnya sila pertama Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan "Keagamaan yang maha kuasa". Ini jelas tidak bisa dibenarkan.
Untuk itulah PSI sebagai partai politik yang berhaluan Nasionalis Demokratik akan terus memperjuangan spirit Pembukaan UUD 1945 dari gangguan ideologi manapun datangnya; baik dari dalam maupun dari luar Republik. Spirit ini telah dibacakan oleh Grace Natalie dengan tuntas di hadapan seluruh kader PSI dan di hadapan seluruh rakyat Indonesia, bahwa kami menolak segala bentuk diskriminasi atas nama apapun. Perempuan pada foto adalah istri dari Dedy Nur ST[/caption]
Saya kira, berbeda bukanlah sebuah tindakan kriminal. Apalagi perbedaan itu disampaikan dalam forum-forum terbuka. Jangan karena kita berbeda pandangan lalu kita saling menghakimi di atas alasan-alasan absurd macam penistaan agama. Mental penistaan seperti ini yang perlu kita lawan dan jelaskan dalam ruang-ruang dialektika publik. Dedy Nur ST sewaktu mengadakan sosialisasi ke desa-desa di Bali bersama istri[/caption]
Partai Solidaritas Indonesia
# Itusaja !