introvert yang selama ini mengekang penampilan orang-orang Karo di pentas seni maupun pentas politik.
Sebagai perbandingan, kita melihat bagaimana Juara R. Ginting kewalahan menyutradarai pemusik-pemusik Karo saat tampil di beberapa kota besar Sumut (Medan, Binjai, Berastagi, Siantar) maupun dari desa ke desa di Dataran Tinggi Karo (Munte, Sugihen, Limang, Tanjung Barus), termasuk saat mengarahkan acting maestro musik Karo Alm. Djasa Tarigan di Tongtong Fair, Den Haag.
"Para pemusik tradisional Karo berkelas dunia, bukan saya lebih-lebihkan, tapi mereka umumnya sangat pemalu," kata Juara mengeluhkan rendahnya kemampuan acting para pemusik Karo.
Lyodra telah mendobrak kebekuan yang sudah lama sejak orang-orang Karo tercampak dari perpolitikan tingkat nasional dan bahkan tingkat provinsi setelah peristiwa 1965. Lebih membanggakan lagi, setelah memenangkan kejuaraan internasional di Sanremo (Italy) Mei tahun lalu dan kemudian mengisi beberapa acara talk show di televisi nasional setelah itu, Lyodra justru berkelana dari desa ke desa di Taneh Karo sebagai bintang tamu. Langsung saja dia mendapat perhatian besar dari warga desa, terutama ibu-ibu dan para remaja (bapak-bapak kampung mungkin lebih mengharapkan bintang tamu yang berpakaian ketat dan bahenol).
Jadi teringat kata-kata Juara R. Ginting betapa bangganya dia karena sanggar asuhannya bersama Ita Apulina Tarigan (yang juga Pemimpin Redaksi SORA SIRULO) ternyata digemari oleh warga pedesaan Karo dan, bahkan, dia sendiri sempat ikut manggung (di Munte dan Sugihen).