Puisi: Menanti Tjahaya — Sorasirulo
Sorasirulo

Puisi: Menanti Tjahaya

Berita terkini Budaya ·
Puisi: Menanti Tjahaya

Oleh: Maria Fatima Anmuni (Kupang, NTT)

Kota tua itu makin sepi beberapa waktu yang lalu Malam hari gelap gulita Tjahaja Benderang tak ada Di jalan sepi rumah-rumahpun senyap Siang hari suara mesin seolah tak terdengar lagi Tak ada sapa diantara pejalan kaki

Anak jalanan tak tahu harus ke mana kakinya

Nanar berjalan tanpa arah menyusuri lorong-lorong di kota itu Kaum papa tak tahu harus ke mana lagi mengadu suara-suara hanyalah seperti angin berlalu Mereka enggan untuk ke sana

Rumah itu sudah dipagari padahal dulunya terbuka bagi mereka Kota tua itu dulu asri nan nyaman setelah ditinggal pergi berubah menjadi muram dan makin muram.

Hijau kini menjadi coklat Wajah kota tua itu berubah entah siang ataupun malam Hilir mudik yang membuat silau pandangan

Di sana di jalanan ada banyak pertujukan kisah hidup yang sama-sama diperankan oleh manusia entah siapakah yang masih mengiba pada yang lemah

Besok Tjahaja itu ada lagi menyinari kegelapan

Besok roda penggerak itu ada lagi menghidupkan mesin yang diam beberapa waktu lalu

Besok akan hadir lagi sosok Pembela Rakyat Kecil di kota tua itu Besok, Tjahaja itu ada lagi menyinari gelapnya hati para korup

Semoga kota tua itu berseri Lagi