Kolom Eko Kuntadhi: Kita Masih Akan Bertemu Pemilu Yang — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Eko Kuntadhi: Kita Masih Akan Bertemu Pemilu Yang

Kolom Eko Kuntadhi: Kita Masih Akan Bertemu Pemilu Yang

Rizieq pulang dari Saudi. Menurut Duta Besar Indonesia di Saudi, Agus Maftuh, sebenarnya dideportasi. Menkopolhukam Mahfud juga bilang dideportasi. Alias diusir. Tapi bukan itu masalahnya. Kepulangan Rizieq disambut ribuan pendukungnya. Mereka memasuki objek vital seperti Bandara.

Menganggu aktifitas di sana. Kabarnya menyebabkan beberapa penerbangan tertunda.

Jalan menuju Bandara macet total. Ada foto beredar, bahkan mereka ada yang menggelar makan di tengah jalan tol. Diantara kemacetan.

Berbagai fasilitas publik di area Bandara juga memgalami kerusakan.

Aneh. Bandara adalah objek vital penting. Kenapa tidak ada penanganan serius untuk memastikan semua aktifitas di Bandara tidak terganggu? Jika ribuan massa bisa merangsek masuk ke sebuah objek vital, wajar jika orang mempertanyakan efektifitas kerja aparat keamanan.

Melihat dari jumlah massa yang terkumpul, saya meragukan jika mereka bergerak secara organik. Saya yakin, massa itu ada yang menggerakkan. Membiayai. Memfasilitasi.

Riizeq sendiri berkoar akan melakukan revolusi akhlak. Dimulai dengan menganggu kelancaran aktifitas di objek vital itu. Barangkali nanti, gerakan berikutnya adalah revolusi akhlak yang akan mengganggu kenyamanan hidup bermasyarakat kita.

Orang-orang sejenis ini sibuk mengurus akhlak orang lain, tanpa peduli dengan akhlaknya sendiri.

Tentu pihak yang memfasilitasi mereka yang punya kepentingan. Jumlah massa bisa diimagekan sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintahan yang sekarang. Ingat, sampai saat ini Rizieq gak pernah mencabut pernyataannya bahwa pemerintahan Jokowi itu ilegal.

Kepulangan Rizieq juga dimanfaatkan para politisi. Anies Baswedan misalnya, dikabarkan akan sowan ke Rizieq. Politisi yang satu ini ingin menguatkan posisinya dengan memanfaatkan popularitas Rizieq. Masih sama caranya ketika Pilkada DKI lalu.

Kita tahu, Pilkada DKI termasuk peristiwa politik paling brutal. Agama diringkus dalam slogan politik yang menjijikan. Begitu juga saat Pilpres 2019. Dalam politisasi agama yang brutal ini, harus diakui Rizieq berada di sentrum putarannya. Rizieq dianggap tokoh yang mampu memanipulasi slogan-slogan agama untuk kepentingan politik.

Brutalitas politik agama ini adalah ancaman mengerikan bagi Indonesia. Sebab kita tahu, ada banyak faksi yang menggerakkan politisasi agama untuk kepentingan masing-masing.

Saat belum berkuasa mereka bisa saja dipersatukan. Nanti, jika memegang kekuasaan, mereka akan bertempur sendiri. Begitulah yang terjadi di banyaj negara yang memainkan politisasi agama secara brutal.

Tapi, melihat respon politisi yang sengaja merapat ke Rizieq, kita masih harus terus menahan nafas panjang. Jika tokoh seperti Rizieq diberi ruang dalam politik formal, ke depan kita masih akan terus dihantui peristiwa politik yang mengkhawatirkan.

Jangan heran jika 2024 kita akan kembali lagi mengulang Pilpres yang menjadikan masjid tidak lebih dari panggung kampanye. Kita akan menemukan mimbar-mimbar Jumat kita dipenuhi slogan politik yang banal.

Kita akan dihadapkan pada ancaman persatuan. Kita akan terus menerus bertarung untuk mempertahankan ideologi negara yang dirongrong. Dan hidup dalam pertarungan yang tiada habisnya itu, adalah hidup yang melelahkan.

Politisi-politisi yang mengambil manfaat dari agama yang diringkus menjadi slogan politik, adalah mereka yang tidak peduli pada kelangsungan bangsa ini. Mereka hanya berfikir kekuasaan. Bukan berfikir keberlamgsungan Indonesia.

Jika mereka diberi tempat, tunggu saja akibatnya. Kita mungkin akan lebih tercabik dibandingkan Suriah dan Irak.

Mengerikan...