Kolom Eko Kuntadhi: Macron, Kartun Nabi Dan Monster — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Eko Kuntadhi: Macron, Kartun Nabi Dan Monster

Kolom Eko Kuntadhi: Macron, Kartun Nabi Dan Monster

Kita membenci intoleransi. Sebab hanya akan mendatangkan kerusakan. Apalagi jika menyangkut agama. Di Perancis, seorang guru dibunuh secara keji. Masalahnya karena ia menunjukan kartun Kanjeng Nabi Muhammad dari sebuah majalah Perancis yang melecehkan. Dulu saat pertama kartun itu diterbitkan, juga terjadi kehobohan.

Bahkan sekelompok radikal menyerang kantor redaksi majalah itu. Membabi buta.

Presiden Macron, tentu saja bereaksi akibat pembunuhan sang guru. Dalam pidatonya ia membela kebebasan berpendapat di negerinya, yang bahkan jika pendapat itu mencela simbol-simbol sakral sebuah keyakinan.

Kita yang waras, pasti gak setuju dengan tindakan brutal yang membunuh guru tersebut Apapun alasannya itu gak bisa dimaklumi.

Tapi, yang juga perlu diingat, tindakan melecehkan simbol sakral sebuan keyakinan, apapun alasannya, juga gak bisa dimaklumi. Kebebasan seperti apa yang akan dihasilkan, jika digunakan saling melukai.

Radikalisme dalam Islam memang menjadi momok dunia saat ini.

Kita bisa bedah sejarahnya. Awalnya ketika AS mau menahan laju Sovyet di Afganistan. Ketimbang harus keluarkan biaya mahal jika mengirimkan tentaranya. AS memilih melatih kaum radikal. Caranya dengan mendoktrin besar-besaran warga Afganistan dengan ajaran Islam dengan tafsir kekerasan. Ajaran itu menemukan bentuk teoritisnya dalam pemahaman Wahabi.

AS sukses. Sovyet berhasil diusir. Tapi ajaran itu makin mengental. Yang tadinya hanya digunakan sebagai penahan ekspansi tentara komunis, justru menjadi ideologi politik sendiri.

Pola yang sama digunakan di Timur Tengah. AS, Saudi, dan kroninya menyebarkan doktrin jihad. Tujuannya membendung ekspansi Iran. Maka di Suriah kita lihat ISIS merajalela. Juga di Libya dan Irak.

Srigala haus darah bertopeng agama ini menjadi mesin membunuh yang canggih dan bengis. Sialnya, ketika srigala itu dilepaskan, ia gak lagi nurut sama pemiliknya. Srigala itu mencari bentuk sendiri. Ajarannya meresap ke berbagai masyarakat Islam.

Sampai juga ke Indonesia.

Akibatnya, para srigala itu terus mencari mangsa. Memuaskan doktrin jihad buatan AS dan sekutunya. Bahkan kini sudah berubah menjadi monster. Mensasar kepentingan siapa saja.

Monster menakutkan itu menjadi masalah besar di dunia. Ia bisa membelah diri. Menyesuaikan dengan berbagai keadaan. Lalu menyebar bagai kutu busuk.

Mereka memang monster. Tapi monster tidak akan membesar jika tidak dipicu. Saat Sovyet menyerang Afganistan, diajarkan bahwa melawan komunis dan kafir adalah jihad. Dari sanalah kita mulai mengenal bom bunuh diri. Jihad dianggap sebagai mempersembahkan kematian untuk membela keyakinan agama. Tapi kali ini musuhnya adalah tentara Sovyet.

Setelah itu para mosnter terus ketagihan jihad. Maka seluruh dunia kita menghadapi keberingasan mereka.

Satu-satunya cara agar monster seperti itu tidak tumbuh adalah dengan terus memompa toleransi. Jangan biarkan semangat jihad yang keliru menemukan momentumnya, ketika intoleransi ditampakkan. Ketika pertunjukan intoleransi didemonstrasikan. Ketika simbol-simbol sakral dilecehkan.

Salah satu doktrin agar orang terjebak dalam jihad konyol adalah bahwa Islam sedang dijajah. Sedang dipinggirkan. Sedang dilecehkan. Sedang diperlakukan tidak adil. Karena itu harus dibela dengan darah dan nyawa.

Mati dalam membela agama akan masuk surga.

Soal benarkah asumsi dasar bahwa Islam sedang dilecehkan, itu tidak penting. Manipulasi saja seolah benar terjadi. Itu akan mampu menciptakan monster yang irasional. Ganas dan mengerikan.

Inilah satu persoalan di Perancis. Yang menjunjung kebabasan berpendapat. Ketika kebabasan itu merangsek simbol-simbol sakral sebuah agama. Akibatnya membangunkan monster tadi. Kasus guru yang dibunuh adalah salah satu bukti.

Jadi, ketika Macron malah membela kebebasan negerinya, dengan membiarkan simbol sakral Kanjeng Nabi dilecehkan, ia hanya menaruh bensin di atas bara. Ia mengipasi api yang bisa saja membesar.

Itulah mengapa saya sangat tidak setuju dengan kebebasan berpendat jika itu harus merangsek simbol-simbol sakral sebuah keyakinan.

Saat Rizieq pernah mencela proses kelahiran Jesus, saya juga sangat marah. Saya melawan pelecehan itu sekuat-kuatnya. Sebisa-bisanya. Omongan Rizieq tidak menghasilkan apa-apa selain api kebencian di masyarakat.

Sama saat saya tidak setuju Macron membela beredarnya kartun Kanjeng Nabi yang melecehkan itu. Bagi saya, tindakan Macron tidak ada manfaatnya buat Perancis. Ia hanya memancing lahirnya kekerasan baru. Lahirnya monster baru.

Bagi saya, monster harus diberangus. Potensi tumbuhnya harus dipangkas.

Caranya? Dengan menumbuhkan toleransi. Jangan pernah merusak simbol-simbol sakral sebuah keyakinan apalagi tujuannya hanya untuk menistakan. Percayalah. Itu hanya jadi bahan dasar lahirnya monster baru.

Saya mengecam keras pembunuhan keji guru di Perancis. Saya juga mengecam pelecehan Kanjeng Nabi. Fenomena keduanya berkelindan. Mulailah melihat lebih objektif.

Kita duduk-dudukan satu-satu kasusnya. Terorisme adalah musuh kemanusiaan. Melecehkan simbol sakral, adalah pupuk yang menumbuhkan orang menjadi monster yang akan menjadi musuh kemanusiaan.

Kadang hidup hanya membutuhkan sebuah kearifan.