Kolom Nisa Alwis: Orang — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Nisa Alwis: Orang

Kolom Nisa Alwis: Orang

Kemarin seorang ukhti memuji gadis berjilbab di samping saya, sekaligus ia menunjukkan tak ada kompromi baginya apalagi apresiasi pada yang hanya berselendang saja. "Alhamdulillah yang muda malah sudah hijrah" begitu kurleb ungkapannya. Selanjutnya ia bersemangat menunjukkan dirinya agen dakwah.

Intinya, baginya jilbab itu mutlak tlakk!

Ia samakan berjilbab bagai kewajiban ibadah haji, menjaganya bagai kesetiaan orang menjaga pernikahan... Uwong gendheng iki. Kejauhan main atau gimana ini. Mbak! Haji itu rukun Islam, kalau jilbab rukun apa?

Menikah untuk sehidup semati, kalau baju bukannya tiap hari biasa ganti-ganti?

Setali tiga uang ada yang juga serupa, tak senang melihat orang berkebaya. Baginya gamis syar'i adalah tempat berlabuh segalanya. Pusat kesempurnaan dunia (dan akherat tentunya).

Saya ingatkan jangan fanatik amat, sekedar pakaian bukanlah jaminan. Arab Saudi saja sekarang melakukan reorientasi. Tak bergaya ultra-konservatif lagi. Mereka sudah tahu, itu menghambat indeks pertumbuhan dalam negeri. Wanita di sana kini legal saja nampak rambut melepas burqa.

Sila update, apa dan mengapa visi KSA 2030. Ia nggak mau tahu. Malah kirim meme isinya: "Oh, target MBS itu bikin orang NU bahagia ya. Bisa pergi haji pake kebaya". Haduh. Angel temen tuturanmu.

Saya tidak tahu pengalaman leluhurmu, tapi ini sedikit cerita dari nenek saya. Beliau berangkat haji kala muda di jaman Belanda. Menempuh perjalanan naik kapal berbulan-bulan. Selama di sana dan juga sekembalinya, beliau PAKAI KAIN KEBAYA layaknya orang Sunda, beserta selendangnya.

Rasanya, begitu pun famili jemaah haji yang berangkat sampai era 80an. Itu bukan pelanggaran! Anda jangan berpikir haji mabrur patokannya baju kekinian. Dan hingga akhir hayatnya apakah para nenek kita ada yang hijrah?

Ya nggak lah. Itu kan istilah anyaran dari kelompok tarbiyah. Tobat ya taubatan nasuha, tekad untuk lebih baik dalam sikap dan laku lampah. Itulah akhlak namanya. Sangat sempit jika hijab zaman now lambangnya.

Trend syar'i ini, malah jadi ruang kamuflase bagi para pesakitan yang menarik iba dan simpatik dengan mengubah penampilan di persidangan. Juga tahu kan, bagaimana potret-potret relijius terpampang di mana-mana saat musim Pileg dan Pilkada.

Itu nggak ada hubungannya samsek dengan kapabilitas dan kinerja mereka. Jual tampang saja. Jadi Nis, neneknya ihrom, wukuf, sa'i, pakai kebaya?? Ya nggak, Malih! Pake kancut. Kayak nggak tau aja, orang sini gimana sih kalau ibadah/ solat? Kan pakai mukena!

Andai tidak pura-purra lupa, pastinya ingat. Kapan istilah syar'i menyeruak di sini. Kemarin sore. Para Wali sejak awal nggak kampanye syar'inya baju karena itu bukan prinsip. Nggak penting, bukan syarat sahnya Islam. Yang tidak berjilbab sekarang sering dianggap non-muslim, minimal katanya nir-hidayah.

Etika pergaulan jadi sirna, karena ada yang merasa lebih sempurna. Aurat adalah produk fikih dan soal budaya, hasil ijtihad manusia. Orang-oang sekarang pada ngotot jilbab adalah perintah langsung dari Allah, seolah Ulama dahulu mengabaikan perintahNya. Ini pangkal masalahnya.

Nggak bisa memilah teks dan konteks, tapi merasa asisten Tuhan soal pakaian. Karena dahulu para Ulama bersikap arif dan bijaksana, akomodatif pada kearifan lokal dan khazanah budaya, inilah faktor Islam di negeri ini diterima.