Kedaulatan Pangan Sebagai Kampanye Utama Pdip Di Pemilu 2024
Di Bagian 3 kemarin saya menjabarkan bagaimana Kedaulatan Pangan adalah hal mendasar bagi kehidupan manusia sebagai makhluk individu dan hal mencakup bagi kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.
Membaca Bagian 3 itu, seorang teman di Indonesia menganggap tulisan saya terlalu memuji Bobby Nasution sebagai Walikota Medan.
Menurut temannya sesama GMNI dulu yang tetap mengawal Bobby secara politik, sampai saat ini, Bobby belum membuat perubahan berarti untuk Medan. Sebagai seorang teman baik dan teman dari dulu pula, kami cukup pintar mengarahkan percakapan ke suasana riang dan penuh canda. Tak mau memperdalam perdebatan.
Hanya saja, saya merasa penting mengingatkan, saya tidak berangkat dari posisi memihak Bobby, melainkan berangkat dari thema Kedaulatan Pangan yang menjadi strategi kampanye PDIP dalam memenangkan Pemilu legislatif pada semua tingkatan (DPR RI, DPRD Provinsi, kabupaten dan kota) serta memenangkan Pilpres. https://www.sorasirulo.com/kedaulatan-pangan-sebagai-kampanye-utama-pdip-di-pemilu-2024-apa-istimewanya-bagian-3/
Ingat apresiasi seni atau sastra?
Sebuah karya seni maupun sastra menjadi jauh semakin indah setelah mendapat apresiasi dari para penggemarnya. Sebuah karya seni maupun sastra tidak berhenti sebatas yang diciptakan oleh sang seniman atau sastrawannya.
Saya lupa mengatakan itu kepadanya, meskipun saya tahu dia bukan orang sembarangan di dalam dunia sastra. Kepadanya saya katakan kalau saya bermaksud memberi nuansa kepada thema kampanye tadi
Seperti yang saya katakan di Bagian 3. Tindakan Bobby Nasution mengolah pupuk organik dari sampah-sampah sayuran di Pasar Induk Lau Cih (Medan) dan menyumbangkannya ke petani ubi kayu di Medan Tuntungan dan petani cabe rawit keriting di Kabupaten Dairi sudah berada di jalan yang benar. Apalagi dia mengadakan kontrak membeli hasil panen petani Dairi sekian ton per minggu dalam upaya menekan angka inflasi di Medan.
"Sayangnya para jurnalis kita kurang tertarik memeriksa sejauh mana keberhasilan program itu. Apakah seperti yang diberitakan atau hanya beritanya saja indah sementara prakteknya tidak begitu," kata saya disambut oleh teman itu dengan tertawa. https://www.sorasirulo.com/amankan-rantai-pasokan-kebutuhan-pokok-untuk-kendalikan-inflasi-dan-ancaman-resesi/
Tapi, kata saya lagi, memeriksa kebenaran prakteknya kurang relevan untuk maksud tulisan saya. Hal pertama yang saya mau tekankan adalah bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Bobby sudah mengikuti kerangka teoritis yang bagus yang dia sebut dengan isilahnya sendiri kolaborasi.
Sementara saya mengutip ucapan antropolog terapan Gerald M. Foster dalam menilai langkah-langkah Bobby itu sebagai sesuatu yang fungsional dan terintegrasi.
Fungsional adalah berasumsi segala sesuatunya berhubungan satu sama lain. Sementara terintegrasi artinya setiap tindakan adalah bagian dari tujuan yang lebih besar.
Untuk bisa menghargai langkah-langkah Bobby yang menurut saya telah di-design oleh tim PDIP dalam thema Kedaulatan Pangan, mari kita bandingkan dengan kampanye Prabowo Subianto yang mendaftar apa saja yang akan dia lakukan bila dia jadi Presiden RI. Dari nomor 1 sampai nomor sekian yang salah satunya adalah Ketahanan Pangan.
Itu tandanya Prabowo tidak memiliki kerangka berpikir tentang mau dibawa ke mana negara kita. Itu juga artinya dia tidak punya idiologi di samping tidak punya pemahaman ilmiah. Sehingga dia tidak bisa merangkum arah yang dimaksudkannya dalam sebuah thema ringkas tapi membekas. Tipikal pengusaha kapitalis.
Lain lagi dengan Anies Baswedan. Sampai sekarang dia tidak menerbitkan thema kampanye apapun selain menafsir ulang propaganda Nasdem dengan Koalisi Perubahan menjadi "restorasi".
Anies menjelaskan restorasi yang dia maksudkan adalah mengembalikan negara ini ke cita-cita Proklamasi RI 17 Agustus 1945. Mungkin dia lupa kalau isi Proklamasi RI itu sendiri menyatakan dibuat secara tergesa-gesa yang penting merdeka dulu.
Ketika dia menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap IKN (Ibu Kota Negara) yang baru di acara Mata Najwa, Mbak Nana menanyakan apa yang akan dilakukannya terhadap IKN bila dia jadi presiden. Anies menjawab, akan diserahkan kepada publik.
Apakah Anies tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan demokrasi? Untuk apa DPR yang singkatan dari Dewan Perwakilan Rakyat? Untuk apa Trias Politica (legislatif, judikatif, eksekutif)?
Kalau tadinya dia menjawab, "kita berikan lebih banyak kesempatan kepada publik untuk menanggapi dengan penyampaian berita yang lebih transparan", kita bisa memahaminya kalau dia menggarisbawahi peran pilar ke empat dalam demokrasi, yaitu media.
Saya hanya membayangkan jawabannya itu maksudnya memberi kesempatan (uang) lebih banyak kepada Kelompok 212 untuk turun ke jalan menentukan arah negara kita.
Selain tidak punya thema yang jelas, Anies Baswedan terus menerus mencoba mengkritik Jokowi. Kita akhirnya bosan menantikan apa konsepnya untuk Indonesia ke depannya, setidaknya di masa kepemimpinannya kalau dia terpilih nantinya jadi Presiden RI.
Inti Bagian 4 ini adalah bahwa, hingga saat ini, hanya PDIP yang berani menetapkan ke mana arah bangsa dan negara ini dibawa bila mereka berkuasa. Soal arahnya ini di bagian berikut akan saya bandingkan dengan arah yang dibuat oleh koaliasi Partai Buruh Belanda (PVdA) dan Partai Hijau (Groen Links) dengan istilah Green Deal.
Keduanya (PDIP dan Koalisi Buruh-Hijau Belanda) lebih mementingkan nasib kelas menengah ke bawah meskipun yang satu penekanannya pada pangan sedangkan yang lain pada keseimbangan alam. BERSAMBUNG