Obat Tradisional: Daun Seribu Guna Obat Tetanus
Siapa yang tidak takut dengan penyakit tetanus? Penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pernafasan sampai kematian ini sangat ditakuti orang. Banyak orang berpikiran bahwa penyakit ini disebabkan oleh luka akibat benda tajam berkarat seperti paku berkarat. Padahal penyakit tetanus disebabkan karena infeksi bakteri 𝘊𝘭𝘰𝘴𝘵𝘳𝘪𝘥𝘪𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪.
Memang bakteri ini pada umumnya masuk dari luka pada tubuh manusia dan menginfeksi sistem saraf.
Spora dari bakteri tersebut memiliki kemampuan berkembang biak hampir di mana saja, terutama kotoran binatang, debu, dan tanah. Tindakan yang dapat mencegah penyakit tetanus adalah dengan mendapatkan vaksin anti tetanus. Namun, apabila terlanjur mengalami luka akibat benda tertentu ada baiknya melakukan tindakan seperti pembersihan area luka dan melakukan pengobatan medis.
Selain pengobatan modern ternyata pengobatan penyakit tetanus telah lama dimiliki nenek moyang Suku Karo. Namanya mungkin beragam di setiap daerah Karo bahkan ada juga yang menamai obat tersebut dengan nama desa asal pembuatnya seperti Tawar (Desa) Bulan Jahe.
Namun, kebanyakan menamainya dengan 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘯𝘶𝘴 dan 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳 𝘮𝘣𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨. Beberapa desa penghasil obat ini yang penulis ketahui berasal dari Kecamatan Barus Jahe seperti Desa Bulan Jahe, Desa Serdang dan desa sekitarnya.
Obat tetanus tersebut memiliki bahan utama dari daun tetanus atau dalam bahasa Karo dikenal dengan 𝘣𝘶𝘭𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘨𝘶𝘯𝘢. Tanaman dengan nama Latin 𝘓𝘦𝘦𝘢 𝘢𝘦𝘲𝘶𝘢𝘵𝘢 𝘓 tersebut juga digunakan untuk berbagai ramuan obat tradisional Karo sehingga dinamai seribu guna atau seribu manfaat.
Selain itu tentunya ramuan obat tetanus terdapat bahan dari tumbuh tumbuhan lainnya. Serbuk atau bubuk ramuan tersebut kemudian dicampur dengan alkohol food grade . Setelah dicampur dengan alkohol dapat digunakan sebagai pembersih luka luar maupun obat dari dalam dengan cara meminum ramuan. https://www.youtube.com/watch?v=_IMnjETjlhA
Tanaman daun tetanus tersebut sering terlihat ditanam pada halaman rumah beberapa warga di Kecamatan Barus Jahe. Sembilan bulan lalu kami meminta bibit kepada salah seorang pembuat 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘺𝘢 di Desa Serdang. Bibi Beru Silangit memberikan dua potong bibit.
Kami mencoba menanam di kebun kami di Tinipay Garten. Ternyata cara tanamnya seperti ubi kayu cukup dengan stek batang. Setelah dua bulan tunas baru akan muncul. Semoga dapat bermanfaat bagi seribu orang ke depannya.