Derita Pertanian Kopi Di Dataran Tinggi
Harga kopi di Dataran Tinggi Karo terbilang cukup stabil. Tidak bergeser dari harga Rp 43 ribu/kg - Rp. 45 ribu/kg. Harga ini bertahan di beberapa tahun terakhir, memang. Kendati demikian, harga jual seperti ini tidaklah menguntungkan bagi petani karena kualitas buah kopi menurun drastis.
Jumlah buahnya sangat berkurang bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kualitas buah yang dihasilkan pun tidak sebagus dulu.
Akhir-akhir ini, serangan hama sangat menggangu. Ada sejenis serangga yang biasanya disebut dengan lalat buah, atau yang lebih lajim di kalangan petani disebut dengan cit-cit dalam Bahasa Karo. Hama cit-cit sangat merusak tanaman, terutama tanaman yang sudah menghasilkan buah.
Tidak jarang tanaman kopi mengalami gagal panen. Kalau tidak tepat cara penanggulangannya maupun jenis obat yang disemprotkan, tanaman kopi bisa berbuah kosong. Kalau direndam dia akan mengapung, biasanya 3 kg kopi yang belum dikupas akan menghasilkan 1 kg gabah kopi kering.
Tapi, sekarang ini, untuk mendapatkan 1 kg gabah kopi kering dibutuhkan 4 sampai 4,5 kg kopi kulit merah yang biasa mereka sebut dengan kopi ceri.
Pada umumnya, kopi tidak disemprot karena pohonnya tinggi dan rimbun. Itu sebabnya orang-orang jarang menyemprot tanaman kopi. Oleh sebab itu, sudah banyak pohon kopi yang dibongkar dijadikan lahan kosong dan beralih ke tanaman muda terutama wortel. https://www.youtube.com/watch?v=nqcTHhgqu50