Derita Pertanian Wortel Di Dataran Tinggi
Mata pencaharian penduduk Desa Lingga (Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo) mayoritas adalah bertani. Sejak 6 tahun terakhir ini mereka lebih banyak menanam wortel. Sebelumnya tanaman-tanaman mereka lebih bervariasi seperti padi, jagung, cabai, berbagai macam sayuran, jeruk, kopi dan masih banyak lagi. Alasan beralih ke tanaman wortel adalah karena, menurut mereka, tanaman wortel perawatannya lebih mudah dibandingkan tanaman-tanaman lain.
Waktu panennya pun terbilang cepat, hanya 100 hari setelah menanam bibit sudah bisa dipanen.
"Perawatannya terbilang cukup santai. Mulai dari awal membuat bedengan dan tabur benih, membubut atau membersihkan rumput serta panen semua dikerjakan oleh pekerja yang datang dari Nias," kata seorang Beru Sinulingga yang menanam wortel di Desa Lingga.
Menurut pengamatan kami, pekerja asal Pulau Nias sudah sangat banyak menyebar di Dataran Tinggi Karo yang sehari-harinya bekerja di ladang orang-orang Karo. Hanya pekerjaan menyemprot obat-obatan saja yang dikerjakan sendiri oleh petani pemilik wortel.
Pada umur 10 hari tanaman wortel sudah mulai tumbuh dan pertama kalinya dilakukan penyemprotan untuk membasmi ulat yang biasa disebut imbung atau di kalangan orang Karo mereka sebut dengan bala-bala . Selanjutnya biasanya disemprot 2 minggu sekali.
Pada umur 40 hari disemprot dengan herbisida atau mereka menyebutnya dengan sensor. Dengan penyemprotan ini rumput akan mati. Hanya rumput-rumput tertentu saja yang tertinggal dan wortel tetap segar seminggu setelah disensor oleh petani pemilik.
Petani pemilik akan meminta bantuan pekerja asal Pulau Nias membersihkan rumput yang tertinggal dan menjarangkan wortel yang terlalu rapat. Setelah itu, bar ditabur pupuk. Hingga usia 90 hari biasanya petani sudah menjual wortelnya kepada tokeh pembeli wortel. Umur 100 hari wortel dipanen, dikerjakan lagi oleh para pekerja asal Nias. Upah pembayaran memanen wortel tidak diberikan oleh petani pemilik, tapi oleh tokeh yang telah membelinya.
Selama ini pertanian Dataran Tinggi Karo, khususnya Karo Julu, disemarakan oleh pertanian wortel. Tetapi, beberapa bulan terakhir ini tidak lagi demikian adanya karena harga tanaman wortel sangat anjok. Bahkan sampai titik terendah. Sementara wortel sudah banyak yang berbunga di lahan tapi belum juga ada yang membeli bahkan banyak diantara mereka meneraktor ladang wortel mereka tanpa dipanen.
Keadaan ini tidak saja berdampak pada petani tapi juga kepada pekerja dari Nias karena pekerjaan mereka otomatis berkurang akibatharga wortel tidak berpihak pada mereka saat ini. https://www.youtube.com/watch?v=Z0Bn1USRpro