Derita Petani Kol Dataran Tinggi — Sorasirulo
Sorasirulo

Derita Petani Kol Dataran Tinggi

Budaya ·
Derita Petani Kol Dataran Tinggi
Laporan CORAH SIMBINCAR LAYO dari Dataran Tinggi Karo

Sama halnya dengan wortel, kubis atau kol juga sekarang ini murah harganya, Di perladangan Dataran Tinggi Karo banyak terlihat tanaman kubis sudah lewat waktu panennya tapi belum juga ada tokeh yang membelinya. Sudah banyak kol yang pecah di tengah ladang karena terlalu tua.

Harga sayur mayur di Dataran Tinggi Karo sekarang lagi hancur hancurnya.

Seperti tomat, sayur putih, daun pere dan masih banyak jenis sayuran lainnya yang sedang murah harga. Hal ini tentu sangat menyakitkan bagi para petani Karo. Sementara warga Dataran Tinggi Karo mayoritas adalah petani.

Kali ini kita memusatkan perhatian pada tanam kubis saja terlebih dahulu. Mulai masa tanam hingga masa panen, kubis menghabiskan biaya sekitar Rp 1.200 per batang. Itu masih biaya yang dikeluarkan untuk perawatan seperti halnya pemupukan dan obat-obatan. Belum dihitung tenaga kerja.

Saat ini, harganya hanya Rp 300 /kg jual di ladang. Itupun susah menjualnya jarang ada yang beli. Bahkan banyak yang pecah karena sudah terlalu tua tidak dipanen. Sementara per batangnya kubis bisa beratnya 500 gr sampai 3 kg, tergantung dari kwalitas tanaman, Kalau dijual ke Pasar Singga (Kabanjahe) atau ke Pajak Roga (Berastagi) hanya laku Rp. 800/ kg.

Biaya rajut dan biaya transportasi saja dari ladang ke pasar tidak cukup. Belum lagi upah pekerja yang memanen. Lagi pula, kalau dijual ke pasar, terbatas untuk kubis yang berukuran kecil dan sedang; maksimal 1,5 kg. Ukuran besar tidak laku dijual ke pasar.

Biasanya kubis dilelang oleh pengirim dan dikirim ke luar pulau, bahkan sampai ke luar negeri. Tapi mereka hanya membeli yang berkualitas bagus. Saat ini, pengiriman pun sedang macat sehingga tanaman kubis atau kol banyak yang tidak dipanen. https://www.youtube.com/watch?v=nwMDdvsDGdY