Kebersihan
Keadaan sungai kita di Indonesia penuh dengan sampah plastik, pampers, softex, kondom bekas, limbah rumah tangga, taik serta airnya beraroma bau menyengat dan hitam. Contoh paling kecil, jangan dulu berbicara tentang sungai di Jakarta dan Medan, mari berbicara tentang sungai di Dataran Tinggi Karo. Sungai Lau Bukit yang berhulu di Gunung Sibayak, membelah Kota Berastagi di sebelah Timur (Lau Galuh) terus memanjang ke persawahan Cinur, Ujung Aji, Bukit, Aji Julu, Aji Buhara, Aji Mbelang dan akhirnya bertemu dengan aliran sungai Lau Biang di Lau Beringin Seberaya.
Sungai itu sudah terkontaminasi sejak dari hulu karena aliran sungai ini menjadi pembuangan limbah rumah tangga dan aliran pembuangan kamar mandi sebagian warga Berastagi. Dihajar zat kimia dari pupuk, pestisida, glisofat dan parakuat dari hulunya.
Bagaimana mungkin kita berbicara soal pelestarian sungai dan menjaga keanekaragaman hayati di hilir jika sungai kita sudah tercemar dari hulu? Dulu, warga Seberaya memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber air minum, memasak, mandi dan mencuci. Sekarang?
Sudah sangat jarang orang yang memanfaatkan air sungai kecuali para petani yang memiliki ladang di sepanjang aliran sungai, dan lagi-lagi kontaminasi pupuk dan pestisida kimia bertambah banyak. Apa kalian tidak merasakan dampaknya?
Dulu, saat aku masih anak-anak, setiap kali pulang ke Desa Seberaya, kami memancing di aliran sungai yang sangat bersih. Begitu mudah mendapatkan ikan untuk lauk sekali makan. Sekarang? Untuk mendapatkan beberapa ekor ikan saja sudah sangat sulit.
Air sungainya tak lagi sejernih dulu. Sekarang keruh dan berwarna kecoklatan. 10 tahun ke depan mungkin airnya sudah berwarna hitam dan berbau tak sedap jika tak segera dibenahi.
Kalian mau jadi Bupati?
Tak perlu banyak cakap. Lestarikan dan perbaiki kerusakan hutan lindung, daerah aliran sungai dan hijaukan lahan-lahan kritis. Gak perlu banyak omong soal pertanian. Kasus lalat buah saja yang sudah 10 tahun menghajar petani jeruk di Karo gak selesai-selesai kalian buat, apalagi kalau kita berbicara soal kedaulatan pasar bagi para petani.
Soal itu semua bisa kami pikirkan sendiri jalan keluarnya karena apapun ceritanya kalian gak akan mampu mengerjakannya. Soal hutan dan sungai itu aja dulu kalian benahi.
Orang tua kita dulu sebenarnya sangat peduli dengan kelestarian alam. Tidak ada Desa (kuta ) didirikan (ipanteki ) sepanjang aliran sungai. Letak Desa (kuta) selalu didirikan paling dekat 100 meter dari aliran sungai. Untuk sampai ke sungai kita harus berjalan menurun, jauh dari Sungai.
Coba kita lihat letak semua Desa di Kabupaten Karo untuk membuktikan argumen ini. Sehingga di banyak Desa ketika hendak ke sungai ada yang bertanya, "mau ke mana?" Dia akan menjawab "ku suah (ke bawah)" maksudnya merujuk pada sungai.