Kolom Aditya W. Gintings: Oligarki Dan Ilusi — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Aditya W. Gintings: Oligarki Dan Ilusi

Budaya ·
Kolom Aditya W. Gintings: Oligarki Dan Ilusi

Di tengah hiruk-pikuk janji kemajuan, oligarki berdiri kokoh di persimpangan kepentingan bisnis dan kekuasaan. Mereka tak sekadar nyaman dengan status quo , tetapi menjadikannya ekosistem yang mereka pelihara dengan saksama. Mengapa berubah, jika ketimpangan justru menjadi bahan bakar bagi keberlangsungan mereka?

Ketimpangan bukan sekadar realitas sosial; ia adalah strategi.

Ketika pendidikan dan ekonomi hanya dapat diakses oleh segelintir orang, kesadaran kritis masyarakat perlahan diredam. Dalam ruang ini, oligarki menemukan cara untuk terus menumpuk kekayaan, mengokohkan cengkeraman mereka atas roda kekuasaan. Mereka mengerti, masyarakat yang terdidik dan sejahtera adalah ancaman eksistensial bagi dominasi mereka.

Namun, permainan oligarki tak selalu terang-terangan. Ia bekerja melalui figur-figur kekuasaan yang berselimut jargon seperti “revolusi mental” atau “transformasi nasional.” Kata-kata ini menyenangkan telinga, tetapi kosong makna jika tidak disertai keteladanan. Alih-alih menjadi motor perubahan, para tokoh ini malah menunjukkan perilaku yang nyeleneh—membingungkan, jika tidak bisa dikatakan menyesatkan. Rakyat diajak bermimpi, tetapi ditinggalkan terlelap dalam ilusi.

Ironisnya, rakyat sering kali menjadi penonton yang pasif. Ketidakadilan dianggap wajar, seakan takdir sosial adalah hukum alam. Padahal, ketidakadilan adalah hasil rekayasa, dan rekayasa bisa diurai dengan kesadaran kolektif. Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali semangat berpikir kritis.

Sebagaimana kata seorang filsuf, “Kebebasan sejati adalah keberanian untuk berpikir dan bertindak melawan ketidakadilan.” Jika rakyat terbangun dari ilusi yang disusun rapi ini, oligarki tak lagi punya tempat untuk bersembunyi. Revolusi mental sejati bukan sekadar slogan; ia adalah keberanian untuk menantang status quo dengan kepala tegak dan hati yang jernih.

Maka, mari bertanya: Apakah kita cukup nyaman dengan ketimpangan, atau berani merancang ulang masa depan yang lebih adil? Sebab, oligarki hanya bertahan selama kita mengizinkannya.