Kolom Aditya W. Gintings: Tentang Subsidi Dan Asas — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Aditya W. Gintings: Tentang Subsidi Dan Asas

Budaya ·
Kolom Aditya W. Gintings: Tentang Subsidi Dan Asas

Di atas meja para pemimpin, kata “keadilan” ditulis dengan tinta emas, dipajang megah untuk dibaca dunia. Mereka berkata, “Kami adalah tangan-tangan pengasih, yang merentangkan rezeki dari kaum yang cukup ke mereka yang kurang.” Namun di balik tirai gemerlap itu, ada bisik-bisik yang lebih jujur: suara rakyat yang menanggung beban tanpa suara.

Subsidi, katanya, adalah anak dari belas kasih.

Tapi mengapa ia kerap tersesat dalam perjalanan, lebih sering berlabuh di gedung megah dan bukan di rumah sederhana? Bukankah ia lahir untuk menghangatkan dapur kaum papa, bukan untuk menambah kilau pada pesta pejabat?

Dan rakyat—oh, rakyat!—mereka adalah ladang yang tak pernah kering untuk dituai. Pajak mereka adalah air mata yang tak terlihat, mengalir ke sungai anggaran yang tak berpihak. Dari tangan mereka yang kasar dan kering, diambil janji akan keadilan; namun yang mereka terima hanyalah debu dari janji itu sendiri.

Mereka yang memegang kuasa, tidakkah mereka sadar? Bahwa subsidi bukanlah hiasan di pesta kebijakan, melainkan tongkat bagi yang tertatih? Tidakkah mereka tahu, bahwa tangis rakyat yang diam lebih tajam dari seribu protes?

Maka, wahai keadilan, ke manakah engkau bersembunyi? Di sudut hati siapa engkau menghilang? Jika engkau tak lagi dapat ditemukan di meja-meja para pemimpin, mungkin engkau telah memilih tinggal di doa-doa para petani, buruh, dan pedagang kecil.

Rakyat mungkin tak bersuara keras, tapi di balik tawa getir mereka ada perlawanan yang sunyi. Karena mereka tahu, keadilan sejati tidak meminta tepuk tangan. Ia hanya perlu hadir, tanpa syarat, tanpa sandiwara.