Kolom Alvian Fachrurrozi: Bantahan Atas Tulisan Ngawur Ki Mbm
Yang saya selalu miris dan kemudian membuat saya banyak kontra (secara pemikiran) dengan mereka yang mendaku spiritual Nusantarais adalah subyektifismenya yang kadang sembrono dan ngawur. Meski, tentu saja, tidak semua yang mengaku spiritual Nusantarais seperti itu. Tapi, seperti oknum yang menulis postingan ini (redaksi tidak ikut menaikkannya karena harus terlebih dahulu meminta ijin kepada penulisnya) saya titeni sangat banyak.
Mereka menulis tentang ajaran spiritual Nusantara masa silam.
Sejarah hanya dengan pengangen-angen (opini) pribadi tanpa disertai literatur dan data sejarah sebagai sumber konkret tulisannya. Bahkan tidak sedikit juga yang mendasarkan tulisannya pada pawisik atau pengalaman gaib yang sangat subyektif dan tidak semestinya dijadikan opini dalam wacana publik.
Oke kembali pada postingan yang menurutku ngawur itu. Di situ dikatakan jika aliran spiritual di Tanah Jawa di era Majapapit ada tiga:
1. Adiyogi - Adibuddha
2. Kayogiswaran - Kaboddhisatwan
3. Tantra Bhairawa
Nah, sumber dari opini ini dari lontar/serat apa sehingga bisa menyimpulkan demikian?
Adiyogi yang berarti "yogi yang pertama" atau "sosok pelopor yoga" itu tidak lain adalah nama lain dari Shiva. Sedangkan Adi Buddha itu adalah konsep Buddhisme khas di Nusantara yang menyesuaikan dengan bangunan asli spiritual Nusantara yang berciri "tidak mengabaikan aspek Hyang Agung (Ketuhanan)". Sementara dalam ajaran Buddha yang asli memang secara epistemologis (teori pengetahuannya) memang tidak membicarakan ketuhanan dan hanya fokus pada pelatihan dan transformasi batin.
Dari situ sudah jelas jika Adiyogi dan Adi Buddha bukan nama sebuah aliran spiritual, melainkan nama orang dan nama sebuah konsepsi ajaran.
Lalu dengan istilah Kayogiswaran dan Kaboddhisatwan pun jelas juga bukan nama sebuah aliran spiritual. Kayogiswaran merujuk pada istilah Yogiswara yang berasal dari kata Yogi (pejalan spiritual) dan Iswara (Tuhan). Jadi, Yogiswara berarti "pejalan spiritual di jalan ketuhanan".
Yogiswara ini tentu saja adalah istilah umum untuk pejalan spiritual Hindu apapun alirannya. Bukan sebuah nama aliran spiritual tersendiri. Sedangkan Kaboddhisatwan (tulisan yang benar adalah Kabodhisattwan dengan "dua t") merujuk pada istilah Bodhisattwa, yaitu sebuah filsafat spiritual yang dianut oleh ajaran Buddha aliran Mahayana dan Vajrayana.
Dalam hal ini memang bisa dikatakan jika Kabodhisattwan itu adalah sebuah aliran spiritual. Tetapi ini bukan istilah umum yang dipakai karena jalan Bodhisattwa sendiri masih ada dua cabang; Mahayana dan Vajrayana. Istilah yang lebih umum dipakai untuk menamai aliran Buddhisme adalah; Theravada, Mahayana, dan Vajrayana.
Selanjutnya tentang Tantra Bhairawa, ini baru benar nama salah satu aliran Hindu Shiva yang eksis di Era Majapahit. Ada bukti-bukti sejarah konkret terkait aliran ini. Di masa Majapahit itu, banyak sekali aliran spiritual (tidak cuma 3 aliran), tetapi yang dominan (mayoritas) adalah Hindu aliran Shiva dan Buddha aliran Mahayana. Kedua agama ini kemudian mengadakan koalisi yang kemudian dikenal sebagai Shiva Buddha.
Kenapa saya katakan koalisi dan bukan sinkretisme? Karena pada tataran praksis kedua agama ini tidak kemudian lebur menjadi satu agama baru, lembaga kependetaan agama Shiva tetap ada dan eksis begitu juga lembaga kebhiksuan Buddha tetap ada dan eksis. Shiva Buddha hanyalah peleburan di ranah tattwa (filsafat) bukan di ranah lembaga keagamaan.
Bagi saya urgen untuk membantah tulisan-tulisan subyektif yang sekilas baik tetapi mengandung cacat sejarah terkait Nusantara seperti ini. Masyarakat Nusantara secara kolektif harus bangkit menjadi bangsa yang ilmiah, apa-apa yang dikemukakan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, bukan bangsa yang cacat nalar yang membincang terkait sejarah dengan seenaknya sendiri hanya berdasarkan asumsi pribadi.
Jangan ya dek ya jangan. Sudah cukup kita hari ini memiliki pemimpin negara dan wakilnya yang memalukan kita sebagai rakyat. Jangan ikut ketularan edan dan memalukan.