Kolom Alvian Fachrurrozi: Fakultas Rasa Dan Fakultas Pikiran Dalam
Manusia secara umum memiliki yang namanya "fakultas pikiran" dan "fakultas rasa" di dalam dirinya. Membedakan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya adalah kecenderungan individualitasnya yang lebih dominan menggunakan fakultas pikiran atau dominan menggunakan fakultas rasa.
Tetapi fakultas pikiran dan fakultas rasa itu pun ada dua sisi yang saling berlawanan antara "sisi hitam" dan "sisi putih".
Menjadi seorang yang "perasa" itu baik jika dalam manifestasi: bisa peka terhadap hal-hal estetis/ seni, bisa berempati, bisa bersimpati, dan bisa iba hati pada penderitaan manusia lainnya. Atau bisa terbakar emosi melihat praktik kesewenang-wenangan, penindasan, dan pembodohon atau pelecehan dari satu manusia kepada manusia lainnya. Menurut saya, inilah sisi putih atau sisi positif dari manusia perasa (yang dominan menggunakan fakultas rasanya).
Tetapi jika menjadi manusia "perasa" itu dalam manifestasi: sifat iri hati, mudah tersinggungan, sulit memaafkan kesalahan orang lain, dan berjiwa pendendam. Menurut saya inilah sisi hitam atau sisi negatif dari manusia perasa dan yang hanya akan berdampak merugikan/menyakiti dirinya sendiri dan orang lain.
Lalu menjadi manusia "pemikir" (yang dominan menggunakan fakultas pikirannya) itu juga baik jika dalam manifestasi: mencintai ilmu pengetahuan, meningkatkan kapasitas intelektual, mencerdaskan orang lain, dan memikirkan kemaslahatan manusia banyak. Menurut saya, inilah sisi putih atau sisi positif dari manusia pemikir.
Tetapi jika menjadi manusia "pemikir" itu dalam manifestasi: berjiwa oportunis dan pragmatis akut yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, suka membodohi dan pintar memanipulasi orang lain secara culas. Menurut saya inilah sisi hitam atau sisi negatif dari manusia pemikir.
Nah kesimpulannya, manusia perasa itu ada dua jenis: manusia perasa yang positif dan manusia perasa yang negatif. Begitu juga dengan manusia pemikir juga ada dua jenis: manusia pemikir yang positif dan manusia pemikir yang negatif.
Jadi jika ada anggapan bahwa "manusia perasa" itu otomatis manusia yang "baik hati" atau "hatinya halus" itu adalah anggapan yang keliru, karena bisa jadi manusia perasa itu ada dalam jenis yang negatif, yang memiliki sifat mudah tersinggungan dan berjiwa pendendam (melekati kebencian secara akut).
Begitu juga jika ada anggapan bahwa "manusia pemikir" itu otomatis adalah "seorang intelektual, seorang yang mencintai ilmu pengetahuan, seorang yang senang belajar dan senang mencerdaskan orang lain". Anggapan itu juga keliru, karena "manusia pemikir" bisa saja ada dalam jenis yang negatif, yang bukan intelektual, yang tidak mencintai ilmu pengetahuan. Melainkan dalam bentuk seperti politikus-politikus licik atau pengusaha-pengusaha culas kapitalis yang pintar memanipulasi orang lain untuk mengeruk keuntungan bagi dirinya sendiri.
Seperti itulah catatan saya tentang kategorisasi manusia perasa dan manusia pemikir. Meskipun secara esensinya, manusia tidak bisa sepenuhnya menjadi manusia perasa atau sepenuhnya manusia pemikir. Fakultas rasa dan fakultas pikiran akan tetap mewarnai secara bersama dan serempak pada kehidupan seorang manusia. Satu-satunya upaya yang bisa dijalankan manusia adalah mengarahkan fakultas rasa ke arah yang sepositif mungkin dan begitu juga dengan fakultas pikirannya diarahkan ke arah yang sepositif mungkin.
Dengan dominannya fakultas rasa yang positif, kita mungkin bisa saja dikatakan "mati rasa" atau "perasaannya tumpul" karena kita tidak bisa mendendam atau tidak mudah tersinggung dengan perkataan orang lain. Tetapi tidak mengapa dikatakan mati rasa atau perasaannya tumpul, fakultas rasa yang negatif tidak perlu untuk dituruti. Yang penting hati kita tetap bisa "peka" dan "mengapresiasi" terhadap "keindahan", bisa "peka" dan "berempati" terhadap "penderitaan sesama", fakultas rasa yang jenis inilah yang patut dituruti.
Demikian juga dengan dominannya fakultas pikiran yang positif, kita mungkin akan dikatakan "bodoh" atau terlalu "lugu dan naif" dalam hidup. Tetapi tidak mengapa dikatakan demikian. Fakultas pikiran yang negatif seperti dalam bentuk pikiran culas dan pintar mengakali orang lain tidak perlu untuk dituruti.
Terpenting pikiran kita tetap memiliki kualitas intelektual, mencintai pengetahuan, mencintai prinsip-prinsip kebaikan, inilah fakultas pikiran yang patut dituruti dan dibiarkan menyala.